Monday, July 14, 2025

Pencuri Liburan

 

PENCURI LIBURAN

            Libur tlah tiba..libur tlah tiba hatiku gembira… Suara merdu Tasya terngiang-ngiang di telingaku. Entah siapa yang pertama kali menyuntikkan lagu itu di benakku, sehingga lagu itu diputar terus-menerus secara otomatis di kepalaku. Sementara sekelilingku ramai dengan celoteh teman-temanku tentang rencana liburan mereka. Si Olla dengan studio trans Bandung nya, Dede dengan rencana Dufannya dan selusin tempat yang belum pernah kudengar terlontar dari mulut teman-temanku yang lain. Kutopang kepala dengan kedua tanganku alih-alih menutup kedua telingaku. Namun, tak urung euphoria liburan itu masih juga merembes dari sela-sela jemariku, memasuki liang telingaku, menembus sawar otakku dan mengaktifkan saklar iri dan jengkelku.

            Orang tuaku adalah pesuruh sekolah ini dengan status Honda, kependekan dari honorarium daerah. Sehari-hari, ibuku menambah keuangan keluarga dengan berjualan makanan ringan untuk anak-anak sekolah. Dengan kondisi ekonomi seperti ini, status juara kelas yang kusabet tujuh kali berturut-turut tidak berpengaruh apa pun terhadap rencana liburanku. Apalagi liburan, berarti pemasukan keluargaku menurun karena ibuku tidak bisa menjual penganan ringan. Aku benci libur sekolah. Seandainya sekolah terus berjalan dan tidak ada hari libur, pikirku.

            “Baiklah anak-anak, selamat berlibur. Sampai jumpa di tahun ajaran berikutnya,” akhirnya Bu Hikmah masuk kelas dan membubarkan kami. Yeay..!! sorak sorai anak-anak sambil berhamburan keluar kelas, Daa..aa sampai jumpa lagi! Kami saling melambai. Aku pun ikut melambai tanpa semangat. Akhirnya kelas telah sepi dan tinggal aku sendiri. Kutelungkupkan kepalaku di atas meja. Aku masih malas kembali ke rumah.

            Tiba-tiba seseorang menyentuh sikuku. Pasti ibu, pikirku. Kuangkat kepalaku dan mendapati sesosok gadis seusiaku yang belum pernah kulihat. “Eh,” belum sempat aku berkata apa-apa, gadis itu tersenyum. “Kenapa sedih?” tanyanya. “Aku benci libur panjang, seandainya sekolah tidak perlu libur,” jawabku spontan.

“Ayo ikut aku,” ditariknya tanganku supaya mengikutinya. Entah mengapa aku mengikuti gadis tak dikenal itu.

“Kita kemana?” tanyaku.

“Kau betul-betul ingin liburan ini dibatalkan?” ia balas bertanya. “Bagaimana dengan teman-temanmu yang sudah mempunyai rencana segudang untuk mengisi liburannya?”

“Aku tidak peduli,” tukasku. “Justru aku senang mereka batal berlibur.” Ha..ha.. ha.. tawaku, persis seperti tokoh-tokoh jahat dalam sinetron.

Gadis itu tampak menghela napas. “Ayo, ada yang bisa mengabulkan keinginanmu” ajaknya.

Tiba-tiba pikiran mistis merasuki pikiranku, “Memangnya Kau siapa? Apa Kau ibu periku?”

Gadis itu memutar bola matanya. “Apa aku tampak setua itu?” tanyanya kesal. “Aku… hmm sebut saja aku peri harapan,” jawabnya kemudian.

            Ia mengajakku mendaki lebih jauh bukit belakang sekolah. Setelah menyeberang sungai kecil tempatku biasa bermain, kami melingkari sebuah batu besar yang selama ini luput dari perhatianku. Di balik batu itu, ternyata terdapat ruang kecil yang menjorok ke dalam batu membentuk semacam relung gua. Di sana duduklah seorang nenek tua, berkebaya lurik dan berkain batik. Rambutnya yang berwarna putih abu-abu digelung rapi ke belakang. Wajahnya manis dan ramah. Di depan sang nenek, terdapat lempeng batu datar semacam altar.

“Kau ingin liburan ini tidak pernah terjadi Nak?” tanyanya ramah.

Aku mengangguk.

“Kau tidak peduli dengan teman-temanmu yang sudah lama mengharapkan liburan ini?” tanyanya lagi?

Aku kembali menggeleng.

Tapi tahukah Kau, ada harga untuk semua hal buruk yang Kau niatkan?”

“Oh..oh berapa Nek?”

“Hmm…,” nenek itu memandangku seperti sedang menaksir emas. “Usiamu akan bertambah satu tahun lebih cepat daripada teman-teman sebayamu.”

Hah.. satu tahun, pikirku, apalah arti satu tahun di usiaku yang masih belia ini. Cepat-cepat aku mengangguk setuju.

“Hi..hi..hi..,” nenek itu tertawa. Apakah tokoh jahat selalu gemar tertawa seperti ini ya, pikirku sambil menggaruk-garuk kepala.

“Lalu, apakah teman-temanku akan menyadari liburan mereka yang dibatalkan?” tanyaku menghentikan tawanya.

“Uhuk..uhuk..uhuk.. Hmm.. tidak, mereka hanya akan merasakan kelesuan fisik dan rasa kesal yang sama bila sesuatu yang sangat kau inginkan diambil dengan paksa darimu, sedangkan untuk lamanya, tergantung dari seberapa besar keinginan mereka akan liburan kali ini,” jawabnya terbatuk-batuk, mungkin tersedak tawanya yang kuinterupsi dengan tiba-tiba.

“Kemarikan tanganmu,” sambungnya sambil menarik tanganku ke arahnya. Aww, ditusuknya jari manisku dengan semacam duri tanaman. Semoga duri itu steril, sehingga aku tidak terkena tetanus, pikirku galau. Darahku pun menetes di atas sebuah mangkuk pualam putih. Setelah jariku meneteskan tiga tetes darah, nenek menjepitkan gumpalan seperti daun tembakau diantara jari jempol dan jari manisku, mungkin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi.

“Setetes darah perawan yang mendengki, di dalam sepercik air sungai, sepercik air laut, bunga pukul empat dan akar rumput kalanjana ditambah essens sinar bulan biru,” nenek itu menggumam, tangannya bergerak menambahkan serbuk putih kebiruan yang berkilau ke dalam mangkuk yang berisi air, tetesan darahku dan beberapa kuntum bunga dan rerumputan itu. Setetes darah perawan yang mendengki..oh, sebersit penyesalan dan rasa benci terhadap diri sendiri menyusup dalam hatiku. Namun rasa itu segera menghilang seperti mendung ditiup angin.

Tiba-tiba angin berputar di sekeliling kami, membuat daun-daun berpusing dan porak poranda, Anehnya, kami seolah-olah berada di pusat angin beliung itu, tenang dan tidak terganggu sama sekali, sehingga aku bisa memperhatikan langit yang berubah-ubah warna di balik pusaran angin. Biru emas saat senja, biru gelap, hitam, emas lagi berkali-kali. Setelah beberapa saat, angin pun mereda. Tiba-tiba aku sudah berdiri di depan kelas VII a. Aku merasa seperti terbangun dari tidur. Apakah aku baru saja bermimpi, pikirku. Tetapi, aku merasakan sesuatu di jempol dan jari manisku. Aku melihat tembakau pemberian sang nenek terjepit di antara jariku. Aku pun mulai melangkah dengan sedikit linglung. Hari sudah beranjak senja, langit keemasan di ufuk barat, mentari masih terlihat separo, namun di sisi timur, bulan segaris sudah mulai muncul seolah tak sabar dengan pergantian tugas menerangi dunia.

Aku pun melangkah menuju rumahku di belakang sekolah. Aku membuka pintu belakang rumahku, ibuku tampak sedang memasak, Aroma sedap sayur lodeh dan ikan asin menghambur ke hidungku.

“Kau sudah pulang Nak? Dari mana saja?” tanya ibuku sambil mencium keningku. Aku cuma tersenyum.

“Nah ini dia juara kita sudah pulang,” tiba-tiba ayahku masuk dari kamar tamu, sekaligus kamar keluarga dan kamar makan. Tangan kanannya melambai-lambaikan selembar kertas yang mirip tiket. “Lihat ini, tiket kereta ke jogja, kau bisa berlibur ke rumah budemu, ayah dan ibumu sudah menabung supaya jagoan ayah bisa berlibur ke jogja,” kata ayahku, wajahnya berbinar-binar.

Seketika mulutku terbuka, liburan di Jogja?? Kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah cerita?” tuntutku.

“Kami ingin memberi kejutan menyenangkan buatmu Nak.”

Aku tergugu. “Aku masuk kamar dulu Yah, Bu,” kataku kemudian. Kedua orang tuaku pun saling berpandang-pandangan dengan heran.

            Kuhempaskan tubuhku di kasur tipisku, liburan ke Jogja adalah liburan yang sangat kuidam-idamkan dan terus kuminta pada ayah dan ibukku sejak beberapa tahun yang lalu. Dan, ketika harapanku itu akan menjadi kenyataan, aku malah membuat liburan ditiadakan. Rasanya aku ingin menangis, jadi seperti ini rasanya bila impian yang ada di depan mata direnggut dari mu. Aku memikirkan teman-temanku dan membayangkan mereka juga mempunyai rasa yang sama walaupun tidak menyadarinya. Oh maafkan aku teman-teman, sesalku. Namun sesal kemudian tak berguna. Aku pun jatuh tertidur dengan air mata mengalir di pipiku.

            Kukuru…yukkk… Aku terbangun oleh pekikan si Rambo. Hmm.. ini liburan, eh..oh tidak.. aku terduduk, hari ini aku tidak jadi libur, pikirku dengan hati nelangsa. Aku bergegas bangun dan merapikan tempat tidur ku. Segera kusambar handuk untuk mandi. Ibuku yang sedang menghirup secangkir teh di dapur, memandangku dengan aneh.

“Tumben liburan seperti ini kau mandi pagi-pagi Arini. Keretamu ke Jogja baru berangkat besok kok,” katanya sambil tersenyum.

“Hah?? Jadi hari ini jadi libur?” tanyaku tidak percaya.

Ibuku ganti membelalak, “Masakan Kau lupa? Tentu saja ini liburan panjang yang dinanti-nantikan seluruh anak sekolah di Indonesia,” ibu mulai kebiasaan hiperbolanya.

            Oh benarkah? Aku bertanya-tanya. Hatiku belum tenang sebelum waktu masuk sekolah tiba. Akhirnya, detik demi detik berlalu dan waktu menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Ketika saat itu halaman sekolahku masih juga sepi, aku baru bisa menghela napas lega. Tawaku keluar tanpa bisa kutahan. Hari ini libur….. Berarti perjumpaanku dengan sang nenek pemutar waktu hanya mimpi. Tapi daun tembakau itu… ah entahlah masa bodoh. Oh.. betapa tenangnya hatiku. Kutarik tangan ibuku dan kuajak memutar-mutar menari bahagia, sambil berteriak libur ke Jogja..libur ke Jogja. Ibuku walaupun heran dengan kegiranganku yang terlambat ikut tertawa senang.

            Namun ditengah kegembiraanku, terselip rasa malu di hatiku, bila mengingat rasa iri dengkiku terhadap keberutungan teman-temanku. Maafkan aku Tuhan, pintaku, dan aku berjanji dengan pertolongan Rahmat- Mu aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Sesal dan doaku pada Tuhan.

Saturday, July 27, 2019

Cerita Anak Misteri Coklat yang Berubah Rasa

Satu siang di negeri pelangi, Indigo si kurcaci kecil terlihat bergegas menuju rumahnya dengan wajah cemberut. Rupanya, Indigo kesal karena mobil-mobilan baru kesayangannya rusak. Bemper depannya peyok karena ditabrakkan pohon oleh Lila, adik bungsunya yang baru berumur tiga tahun. Namun, bayangan segelas es susu coklat yang dingin, sedikit menyejukkan hatinya. Indigo memang sangat suka coklat. Coklat selalu membuat hatinya gembira dan ceria. Kemarahan dan kekesalannya selalu lumer bila lidahnya merasakan nikmatnya coklat.

Sesampainya di rumah, Indigo segera membuka kulkas. Ibunya memang selalu menyediakan segelas susu coklat dingin untuk Indigo. Indigo segera meneguk cairan coklat nikmat itu. Tapi, wuekk..yek Indigo mengernyitkan dahi. Es coklat ini rasanya aneh sekali, pahit, getir dan sedikit masam. Mungkin coklat bubuknya kadaluarsa, pikirnya.
“Hai Indigo,” tiba-tiba terdengar suara ceria Violet, “ayo main ketempatku, ibuku membuat coklat mouse.” Ajaknya. Violet adalah kurcaci tetangga Indigo.
Hmm..coklat mouse, wah pucuk dicinta, ulam tiba, piker Indigo. Terbayang di benak Indigo, coklat mouse yang lembut, manis, dingin bermain-main di lidahnya.  

“Horee coklat mouse!!.” sorak Indigo kegirangan, sambil berlari menuju rumah Violet. Aku akan mengecek tanggal kadaluarsa di bungkus coklat, segera setelah aku pulang nanti, janji Indigo dalam hati.

            Kedua anak itu segera berlari menuju rumah Violet dan menyambar coklat mouse yang sudah tersedia di atas meja. Namun, begitu coklat mouse menyentuh lidah Indigo dan Violet, wajah kedua kurcaci itu langsung berubah. Sedetik kemudian, keduanya sibuk meludahkan cairan coklat kental.

“Ih, kenapa coklat mousenya rasanya jadi seperti susu basi begini ya,” komentar Violet sambil bergidik memandang gelasnya. Indigo jadi ingat rasa es susu coklatnya yang pait dan getir. Sejurus kemudian, Indigo meraba kantung celananya. Ia teringat permen coklatnya yang juga lengket tapi keras dan tidak bisa dimakan.
“Aneh,” kata Indigo pada Violet dan dirinya sendiri,”kenapa hari ini semua coklat jadi tidak enak ya?”
“Iya, aku jadi mual dan sepertinya tidak ingin makan coklat lagi selamanya.” Kata Violet.
Wajah kedua kurcaci itu menjadi murung. Tiba-tiba kekesalan Indigo pada Lila muncul lagi. Ia nyaris menyalahkan Lila atas berubahnya cita rasa coklat.

            Beberapa saat kemudian, kedua kurcaci itu terusik dengan suara ribut di luar. Rupanya tiga kurcaci kecil Tosca, Oranye dan Magenta sedang sibuk berdiskusi.

“Hai teman-teman.” Sapa Indigo.
Indigo dan Violet pun segera bergabung dengan teman-temannya. Ternyata mereka juga sedang membicarakan rasa coklat yang berubah tidak enak.
“Teman-teman, kita harus menyelidiki misteri ini.” ujar Indigo dengan mimik serius.
“Tapi, bagaimana caranya?” sahut Magenta
”Kurasa, kita harus menemui Peri Coklat.” Usul Tosca
“Kau tahu rumahnya?” Tanya Magenta
“Aku tahu,” jawab Tosca, “Ayahku pernah mengajakku ke rumah Peri Musim Semi untuk membahas masalah perkebunan. Rumah Peri Coklat sekitar tiga rumah darinya.” Tosca menjelaskan.
“Ayo, siapa takut.” Balas kurcaci lain dengan  riang.
Kelima kurcaci kecil itu pun  beramai-ramai menuju rumah peri coklat.

            Ternyata rumah Peri Coklat cukup jauh. Mereka harus melewati hamparan kebun jagung, menyeberangi sebuah sungai kecil, semak labu kuning dengan buah-buahnya yang sebesar kursi, dan setelah melalui gerbang mawar yang sangat indah, sampailah mereka di permukiman para peri. Rumah Peri Coklat berbentuk cake blackforest, yang kelihatannya sangat enak. Si gembul Oranye tidak tahan untuk tidak mencuil sedikit dinding rumah yang terbuat dari coklat. Kalau saja tidak mendapatkan tatapan galak dari Violet, mungkin rumah Peri Coklat akan habis dilahap Oranye. Tapi tampaknya rumah Peri Coklat sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ketika sedang sibuk mencari keberadaan Peri Coklat, tiba-tiba muncul seorang wanita gemuk, berwajah ramah berpakaian serba putih, dengan senyum cemerlang, yang mengingatkan anak-anak pada artis iklan pasta gigi di televisi.

“Hai Peri Gigi,” sapa Tosca.

Ternyata wanita itu adalah Peri gigi. Hm tentu saja, Indigo baru memperhatikan bahwa di sebelah rumah Peri Coklat, berdiri sebuah rumah berbentuk gigi geraham yang besar, berwarna putih cemerlang. Di dinding sebelahnya tampak bersandar sebuah sikat gigi dan pasta gigi raksasa. Rupanya peri Gigi baru saja selesai menyikat rumahnya. Sarung tangan karet masih terpasang di kedua tangannya.

“Halo Tosca, halo Violet, halo anak-anak,” balas Peri Gigi sambil tersenyum ramah pada Tosca dan teman-temannya. “Apakah Kalian mencariku, untuk minta diajari cara menyikat gigi dengan baik dan benar?” Tanya Peri Gigi dengan wajah berseri-seri. Para Kurcaci kecil menggeleng. “Kami mencari Peri Coklat.” Jawab Tosca. Wajah Peri Gigi berubah menjadi suram.

Para Kurcaci kecil itu pun lantas berlomba-lomba menceritakan perihal semua coklat yang rasanya berubah menjadi tidak enak sehingga membuat hidup mereka menjadi muram dan tidak bersemangat, kepada Peri Gigi.

“Hmm, Peri Coklat memang sudah dua hari ini meninggalkan rumahnya,” kata Peri Gigi sedikit cemberut, “Sepertinya kemarin, aku melihatnya berjalan ke arah hutan” sambungnya. “Kurasa, Peri Coklat memang harus sedikit merenung.” Sungut Peri Gigi.
            “Kalau begitu, ayo kita cari Peri Coklat,” usul Indigo.
 “Kita harus mencarinya ke dalam hutan?” Tanya Orange, dia melihat ke sekeliling dengan gelisah dan takut-takut.
“Pergilah sekarang, semoga sebelum gelap Kalian sudah menemukannya” kata Peri Gigi, “Selama matahari bersinar, hutan cukup aman. Tapi ingat, bila Kalin tidak berhasil menemukan Peri Coklat, sebelum matahari terbenam, Kalian harus keluar dari hutan.” Pesan Peri Gigi.

Para Kurcaci kecil pun segera bergegas pergi, Oranye perlu sedikit dorongan dan tarikan supaya segera beranjak pergi.
“Hati-hati di jalan anak-anak, dan jangan lupa selalu menggosok gigi sesudah makan dan sebelum tidur,” teriak Peri Gigi lagi.
“Baiklah, kami pergi mencari Peri Coklat dulu ya Peri Gigi.” Pamit  Indigo dan teman-teman.

Para kurcaci kecil pun segera bergegas menuju hutan. Dari perumahan para peri, setelah melewati gerbang mawar, mereka berbelok ke kanan menuju hutan. Para Kurcaci kecil menyusuri sungai yang sangat jernih, yang mengalir masuk ke hutan. Disepanjang sisi sungai tumbuh pohon buah kressen dan murbei yang berbuah lebat. Hmm, yummy rasanya manis dan segar. Setelah berjalan beberapa saat, mendadak langkah Indigo terhenti, “Hei teman-teman, lihat ujung murbei ini ada coklatnya,” serunya, tangannya bergerak hendak memakan murbei berlumur coklat itu. Tapi “eh tunggu,“ tangannya ditangkap Oranye, “jangan-jangan ini lumpur dan bukan coklat.” Oranye mencium-cium murbei itu dan menjilat sedikit. “Eh iya,” cengirnya, “ini coklat.” Dan langsung melahap buah itu, “dan hmm nyam nyam, rasanya enak sekali.” Sambungnya. Kurcaci yang lain pun memetik murbei dan kressen yang saat ini ada coklatnya. Semuanya setuju kalau ini adalah coklat terenak yang pernah mereka makan. Tiba-tiba, auw gedebuk, Tosca yang bertubuh montok terpeleset saat akan menjangkau buah murbei yang agak tinggi. Karuan saja kurcaci yang lain, tertawa melihat wajah bulat Tosca yang berlumuran lumpur coklat. Tapi ia malah menampakkan cengiran lebar, “Es krim coklat,” seringainya.
“Berarti kita sudah dekat dengan Peri Coklat.” Simpul Indigo bersemangat.

            Para kurcaci kecil memperhatikan sekeliling mereka dan alangkah senangnya mereka ketika mengetahui hutan telah berubah menjadi surga coklat. Kulit pepohonan terbuat dari coklat. Di sepanjang jalan, bertaburan warna-warni coklat bersalut gula. Bunga beraneka warna yang ternyata terbuat dari coklat berwarna. Dan yang paling penting, coklat di sini tetap terasa enakk, tidak seperti di desa mereka. Meskipun begitu, mereka tidak lantas melupakan tujuan utama mereka mencari Peri Coklat. Para kurcaci kemudian memutuskan untuk mengikuti aroma coklat yang membangkitkan semangat.

Akhirnya di depan mereka tampak seorang wanita muda sedang duduk merenung di sebuah tunggul pohon. Ia berwajah manis, memakai pakaian dari serutan coklat yang mirip dengan kulit pohon. Rambutnya berhiaskan topi manik-manik warna-warni. Ketika berdiri di dekatnya, muncul perasaan gembira, nyamanan dan tentram di hati para kurcaci. Tapi kebalikan dari efek yang ditimbulkannya, wajah wanita muda itu tampak murung.

“Halo.. Apakah anda Peri Coklat?,” sapa Magenta, “karena tampaknya Anda sangat lezat.” Sambungnya, yang lantas mendatangkan sikutan dari kurcaci lainnya.
“Hai anak-anak,” balasnya, “Mengapa kalian bisa sampai di hutan ini?” sambung Peri Coklat lagi.

“Kami mencari Peri Coklat,” jawab Indigo,“Coklat di rumah kami, rasanya berubah menjadi tidak enak.”
“Hmh..,” desah Peri Coklat, “memang aku sengaja membuat coklat menjadi tidak enak dan mengasingkan diri di sini,” sambungnya, “Aku tidak ingin anak-anak menyukaiku lagi.”
“Kenapa Peri Coklat? Aku sangat menyukai coklat, bahkan sekarang aku ingin memakan topimu.” Sahut Tosca yang meyakini bahwa topi itu terbuat dari coklat salut gula.

Mau tidak mau Peri Coklat tersenyum mendengarnya. “Aku sangat sedih.  Kemarin, Peri Gigi bercerita padaku, bahwa hampir semua anak dan kurcaci giginya berlubang, karena mereka suka sekali coklat. Aku sangat mencintai kalian anak-anak. Aku tidak mau kalian tersiksa oleh sakit gigi karena aku,” jawabnya.

Para kurcaci menunduk malu, mereka semua punya lubang di gigi mereka, kecuali Violet. Tanpa sadar, tangan Indigo menyentuh pipi kanannya. Ya, gigi belakang kanannya memang berlubang, bila sakitnya datang, auw rasanya sungguh tidak karuan. Ia memang malas menggosok gigi, walaupun sudah diingatkan berulang kali oleh Ibu dan Ayahnya. Ia hanya ingat menggosok gigi, bila sakit giginya datang.

“Jangan salahkan dirimu Peri Coklat,” kata Violet, “gigi anak-anak berlubang karena malas menggosok gigi. Buktinya, gigiku tidak berlubang walaupun aku sangat suka coklat. Itu karena aku selalu menggosok gigiku pagi, sore dan sebelum tidur malam,” sambungnya seraya membuka mulutnya lebar-lebar, memamerkan deretan giginya yang bersih dan tanpa lubang. Wao teman-temannya menatap kagum. Jadi itu sebabnya Peri Gigi mengenali Violet di antara teman-temannya yang lain, piker Indigo.

“Benar Peri Coklat, aku memang malas menggosok gigi,” Magenta membuat pengakuan, Oranye dan Tosca manggut-manggut malu. Mereka semua merasa tidak enak, karena kesalahan mereka Peri Coklat menjadi sedih.

“Kembalilah ke peradaban Peri Coklat,” bujuk Indigo, “hari-hari kami menjadi muram tanpa kehadiranmu. Aku jadi mudah marah pada adik bungsuku dan tidak ada yang bisa menghilangkan kekesalanku, kecuali coklat.”
“Benarkah?” Tanya Peri Coklat, wajahnya sudah tidak semuram tadi. Para kurcaci langsung menganggukkan kepala sambil berusaha menampilkan wajah termanis yang mereka punya.

“Baiklah, kalian para kurcaci yang manis berhasil meyakinkanku,” kata Peri Coklat akhirnya setelah berpikir sejenak. Horee sorak para kurcaci kegirangan.

            Ditaungi lengkung indah pelangi di ufuk barat, para kurcaci kecil dan Peri Coklat pulang menuju pemukiman peri. Hari para kurcaci kecil ditutup dengan jamuan serba coklat yang sangat nikmat di rumah Peri Coklat. Kekecewaan para kurcaci terhadap coklat, terbayar sudah dengan berlipat-lipat sore itu. Mereka berjanji dalam hati, untuk tidak membuat Peri Coklat sedih lagi. Esok hari mereka akan mengajak semua anak untuk rajin menggosok gigi. Karena tanpa coklat, hari seluruh anak di dunia akan terasa sangat suram dan membosankan.

***

Monday, March 4, 2019

Cerita Anak Momo Dan Hujan


MOMO DAN HUJAN



            Momo sangat suka hujan. Hujan gerimis atau hujan lebat, semua momo suka. Menurut momo, dunia tampak lebih indah di balik guyuran hujan. Bila hujan tiba, Momo bersama teman-temannya, suka berlari-lari di bawah siraman hujan, atau mandi di bawah talang rumah sambil membayangkan mandi di bawah air terjun. Sesudah asyik bermain hujan, biasanya Ibu Momo akan memandikannya dengan air hangat dan menyediakan segelas susu coklat hangat serta sepiring kentang goreng. Hmm…yummy.
            Hobi  Momo yang lain adalah, ia  suka sekali menghanyutkan perahu kertas di selokan kecil di depan rumahnya. Momo berlomba dengan teman-temannya, perahu kertas siapa yang lebih cepat dan paling tahan lama tidak tenggelam. Terlebih setelah hujan reda, air di selokan itu mengalir lebih deras. Terkadang Momo menghanyutkan kardus yang diberi tiang dan bendera. Momo membayangkan dirinya mengecil dan menjadi nakhoda perahu kertas atau perahu kardusnya itu. Kalau besar nanti, Momo bercita-cita menjadi seorang pelaut. Ia akan menjelajah Indonesia yang kata   ibu Guru di sekolah, 2/3 nya terdiri dari lautan. Selain perahu kertas dan kardus, Momo juga sering menghanyutkan barang-barang lain seperti sepatunya yang sudah rusak atau sekedar bungkus permen.  Ia suka sekali melihat barang-barang itu hanyut terombang-ambing dipermainkan arus air.
          Sebetulnya, Ibu Momo selalu mengingatkannya untuk tidak menghanyutkan sampah ke sungai. Ibu mengatakan bahwa perahu-perahu Momo itu akan menghalangi aliran air dan menyebabkan selokan menjadi dangkal. Bila selokan menjadi dangkal, selokan tidak bisa lagi menampung air hujan. Tapi Momo tidak pernah menggubrisnya. Momo terhanyut dengan bayangannya menjadi nakhoda kapal kecilnya.
            Pagi itu adalah hari Minggu. Hujan turun tiada henti sejak tadi malam. Suasana yang dingin dan suara ketukan hujan di genting yang berirama menyebabkan Momo malas bangun dan semakin merapatkan selimutnya. Tapi, ada suara ribut-ribut teriakan ayah dan ibunya mengusik tidur Momo. Awas…ya..ya.. angkat, dan suara-suara perabotan di geser. Dengan menggerutu, Momo melepas selimutnya dan turun dari tempat tidur. Tapi, aw.. dingin, ada air di bawah tempat tidurnya. Bagaimana mungkin? Ada air di mana-mana. Momo menatap bingung karena tempat tidurnya terkepung air, sebagian kertas-kertas mengambang. Momo cepat keluar kamar dan bergabung dengan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu Momo sedang sibuk menggeser-geser perabot seperti tivi dan kertas-kertas penting supaya tidak rusak terkena air.
            “Ada apa ini Yah?” Tanya Momo. “Ini namanya banjir Momo,” jelas ayahnya. Momo pun manggut-manggut. Seperti ini rupanya banjir, selama ini Momo hanya pernah melihat di tivi mengenai banjir. Momo pun segera membantu kedua orang tuanya mengamankan barang-barang yang penting sambil menggerutu. Kali ini Momo marah pada hujan karena telah menyebabkan rumahnya kacau balau. Untunglah hujan, segera reda, mungkin hujan takut dengan amarahnya, pikir Momo. Namun, meskipun hujan sudah berhenti, air di dalam rumah Momo tidak serta merta surut. Di dalam rumah, air masih setinggi mata kaki dan kaki Momo mulai gatal-gatal. Ayah Momo keluar bersama tetangga lainnya akan kerja bakti. Entahlah apa yang akan dikerjakan ayahnya, Momo tidak tahu.
            Sore hari, Ayah Momo kembali ke rumah. Air di dalam rumah Momo sudah surut. Tapi bukan berarti pekerjaan sudah selesai. Keluarga Momo masih harus membersihkan lumpur yang menemani air hujan masuk ke dalam rumah. Saat makan malam, Ayah menceritakan yang dilakukannya bersama Bapak-bapak tetangga siang tadi.  “Sistem pembuangan air desa kita kacau,” terang Ayah,”sudah tidak bisa menampung air hujan. Selokan kita penuh dengan sampah. Banyak orang-orang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan. Ayah dan Bapak-Bapak tadi menemukan kardus, kertas-kertas, ember bekas, segala macam plastic, sepatu bekas dan segala macam sampah lainnya yang menyebabkan selokan kita tersumbat.”
            Kertas, kardus, sepatu, glek, Momo menelan ludah. Jadi dia yang ikut  menyebabkan desanya dilanda banjir. Ibu melirik Momo, yang diartikan oleh Momo sebagai pandangan, “Apa kata Ibu.” “Jadi, ehm… bukan salah hujan ya Yah, rumah kita menjadi banjir, tapi kita sendiri yang salah?” Tanya Momo. Momo menyesal sudah marah pada hujan.  “Iya Momo, hujan sama sekali tidak salah. Hujan turun memberi kesuburan dan air tanah yang sangat kita butuhkan. Nah, mulai sekarang, kita semua harus ikut menjaga kebersihan selokan dan sungai di sekitar kita dengan cara, tidak membuang sampah sembarangan. Bila kita melihat ada yang masih membuang sampah di selokan atau sungai, kita wajib mengingatkan.”
            Momo menunduk, diam-diam minta maaf pada Tuhan karena telah menyalahkan hujan dan berjanji pada diri sendiri untuk menjaga kebersihan selokannya. “Momo,” tegur Ibunya, “ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan besok pagi.” “Apa Bu?” Tanya Momo. “Pergi ke puskesmas untuk berobat gatal-gatal di jari-jari kakimu karena seharian terendam air.” Jawab Ibu sambil tersenyum. Momo pun mengangguk dan tersenyum lega.


Monday, February 25, 2019

cerita anak binatang : Kiko Ingin Punya Belang

Cerita di bawah ini adalah cerita anak dengan peran utama binatang kucing. Ternyata banyak kisah binatang yang mirip dengan kisah manusia lho. Semoga dengan membaca cerita di bawah ini, adik-adik bisa mengambil manfaatnya. Selamat membaca.
KIKO INGIN PUNYA BELANG

Kiko adalah seekor anak kucing Persia yang lucu. Ia tinggal di rumah keluarga Adit bersama induk dan ketiga saudaranya. Namun, Kiko sering terlihat murung dan menyendiri. Ternyata, Kiko merasa sangat berbeda dari ketiga saudaranya.
Ketiga saudaranya, memiliki bulu yang berwarna-warni. Coki kakaknya mempunyai belang hitam di hidungnya yang membuat wajahnya terlihat kocak. Adit memanggilnya Coki si badut. Ciko kakak keduanya mempunyai belang abu-abu di mata kirinya. Adit sering memanggilnya dengan sebutan bajak laut. Sedangkan  Moci adik bungsunya, mempunyai bulu kuning berbentuk hati di dadanya, plus tambahan bulu kuning di keempat kakinya, sehingga ia seolah-olah memakai sepatu. Dida adik Adit, sangat memuja Moci. Ia memanggil Moci kucing cinta kecilnya.  Induknya memiliki bulu tiga warna, hitam, kuning dan putih, sangat cantik. Di dadanya ada tanda cinta seperti milik Moci. Namun, entah kenapa, bulu Kiko dari ujung hidung sampai ujung ekor, berwarna putih bersih tanpa noda,. Kiko merasa begitu berbeda, ditambah lagi Keluarga Adit tampaknya tidak menyukai dirinya.
Ibu Adit pernah memarahinya ketika Kiko sedang bersantai di karpet kamar tamu. Saat itu, Kiko baru saja membuat bulunya menjadi lebih berwarna dengan berguling-guling di lumpur sehabis hujan, ia sudah meniru belang hitam di mata kirinya seperti milik Ciko. Mita kakak Adit juga memarahi Kiko saat Kiko membuat bulunya berwarna-warni dengan cat air miliknya. Kiko merasa terasing.
Pada suatu hari, Maya sepupu Adit datang berkunjung. Ketika melihat Kiko, tiba-tiba Maya menjerit.
“Aaahhh…!!” Kiko sampai terlompat karena kaget. Ia lantas bersembunyi di belakang kursi. Oo…apa yang telah kuperbuat? Pikir Kiko bingung. Aduh, bisa-bisa aku dibuang di pasar oleh Keluarga Adit karena membuat Maya ketakutan.
Adit pun berlari tergopoh-gopoh. “Ada apa May?” tanyanya.
“Kucingmu yang itu lucu sekali,” kata Maya dengan mata berbinar-binar, “bulunya putih mulus seperti salju,” sambungnya penuh kekaguman.
Haa.. Kiko melongo.  
“Ha..ha..ha..” Adit tertawa, sambil meraih Kiko dan mengelus-elusnya. Maya ikut mengelus-elus bulu Kiko dengan lembut.
“Yang ini memang beda, namanya Kiko,” jelas Adit, “tapi dia agak nakal, dia suka berguling-guling di lumpur dan membuat karpet Mama kotor. Pernah juga menumpahkan cat air Kak Mita,” sambungnya lagi.
Meong keluh Kiko, Aku tidak nakal, aku cuma ingin membuat buluku lebih berwarna. Maya malah tertawa. “Mungkin dia ingin mewarnai bulunya.”
Aha, Maya tahu maksudku, Kiko langsung menyukai sepupu Adit ini, ia menggosok-gosokkan kepalanya dengan manja ke tangan Maya.
 “Boleh aku minta kucingmu yang ini?” tanya Maya.
“Oh jangan,” kata Adit, “ini kesayanganku, mainlah saja ke sini sering-sering.”
Maya mengangguk setuju. Kiko pun lega, ia tidak bisa membayangkan terpisah dengan induk dan saudara-saudaranya.
Siang itu, Kiko melangkah mendekati saudara-saudaranya yang sedang bermain.
“Hai,” sapanya ceria. “Kalian dengar kata Maya tadi? Katanya aku special.” Ketiga saudaranya tertawa-tawa senang mendengarnya.
“Jadi, kalian ingin menutup belang kalian?” tanya Kiko. “Aku tahu di belakang rumah ada sekaleng cat putih sisa Pak Mudi mengecat pagar,” sambung Kiko. Ketiga saudaranya membelalak terkejut.
 “Haa, ah hahahaha…” tawa ketiganya pecah.
“Tentu saja aku tidak mau menutup belangku Kiko,” kata Ciko. “Aku ini Ciko si bajak laut, penguasa dapur,” katanya sambil pura-pura memamerkan gigi dan kukunya.
 “Dan aku Coki si badut, penghibur Keluarga Adit.” Kata Coki sambil pura-pura terbelit gulungan  benang.
“Sedangkan aku, Moci si kucing cinta,” kata Moci sambil berjalan dengan anggun, tapi tiba-tiba terjatuh ikut terbelit benang Coki. Keempat kucing bersaudara itu pun tertawa bersama-sama.
“Jadi kalian tidak ingin mempunyai bulu seperti buluku?” tanya Kiko.
“Tentu saja tidak.” Jawab ketiganya serempak.
“Kami juga spesial, sama seperti kamu Kiko,” kata Coki sambil tersenyum. Kiko balas tersenyum.
“Sekarang terima seranganku, gulungan kapas!” seru Coki sambil menubruk Kiko, keduanya pun lantas asik bergulingan, Ciko dan Moci pun ikut menimbrung. Sambil bermain, Kiko tersenyum dalam hati, Ternyata benar kata Mami Kucing, kami semua spesial dengan keunikan masing-masing.


Monday, February 11, 2019

Cerita Anak: Catatan Seorang Pahlawan Cilik

Cerita anak ini menceritakan dan mengajak, siapa saja bisa jadi Pahlawan atau Super Hero. Bagaimana caranya? Yuk kita baca, supaya kita juga bisa menjadi Pahlawan.

Catatan Seorang Pahlawan Cilik


Hai Sobat Ocha, perkenalkan namaku Aldo. Saat ini aku berada di kelas V SD. Aku anggota SAPULIDI. Oh kalian mungkin belum tahu apa itu SAPULIDI. SAPULIDI adalah singkatan dari "Pasukan Anak Peduli Penanggulangan DBD Mandiri". Hehe ada singkatan lagi di dalamnya ya. DBD itu singkatan Demam Berdarah Dengue. Kalian sudah pernah mendengar, atau mungkin pernah mengalaminya?

Ya, DBD adalah nama penyakit. Aku sendiri pernah mengalaminya. Rasanya sungguh menyiksa. Badanku demam tinggi. Aku lemas sekali, kepala dan seluruh sendi-sendiku sakit, ulu hatiku nyeri. Aku tidak bisa makan dan minum. Aku selalu memuntahkan setiap makanan dan minuman yang masuk ke tubuhku. Tapi anehnya perutku jadi besar sehingga bernapas saja rasanya sulit. Waktu itu, aku dirawat di rumah sakit daerah. Tapi menurut cerita ibuku, rumah sakit di daerahku tersebut tidak sanggup lagi merawatku, jadi aku harus dikirim ke rumah sakit yang lebih besar, rumah sakit pusat di kota Yogyakarta. Namanya RSUP Dr. Sardjito yang berjarak sekitar 30 km dari rumahku. Untunglah dokter-dokter di rumah sakit ini berhasil menyembuhkanku, sehingga sekarang aku bisa bercerita pada kalian.

Aku sungguh tidak ingin menderita lagi penyakit ini, dan aku juga tidak ingin adikku, teman-temanku dan kalian semua merasakan kejamnya penyakit ini. Maka itu, ketika puskesmas mengajakku berperang melawan DBD, aku dan teman-temanku segera mengajukan diri. Kami tergabung dalam SAPULIDI.

Nah, sekarang kisahku hampir sama seperti superhero idolaku yaitu Spiderman. Sepulang kuliah biasanya Spiderman akan berpatroli mencari pelaku kejahatan dan menangkap mereka. Begitu pula dengan kami anggota SAPULIDI. Sepulang sekolah, kami berpatroli mencari jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti. Lho, apa hubungannya jentik-jentik, nyamuk Aedes aegypti dengan penyakit DBD?Penyakit DBD memang disebabkan virus dengue, tapi penyakit ini ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. O iya, kalian tahu tidak jentik-jentik itu apa? Di Jawa, jentik-jentik juga dikenal dengan sebutan uget-uget, mungkin karena gerakannya yang nguget-nguget. Banyak lho yang tidak tahu kalau jentik-jentik ini lah yang nantinya menjadi nyamuk. Ciri-ciri jentik-jentik yang akan menjadi nyamuk penular DBD ini antara lain adalah sebagai berikut. Ia suka di tempat-tempat yang bersih. Selain itu, jentik-jentik nyamuk ini juga sangat aktif bergerak, dibandingkan jentik-jentik nyamuk jenis lain.

Pulang sekolah, kami makan siang, kemudian segera berpatroli. Tak lupa sebelum berangkat, kami memakai lotion anti nyamuk, supaya tidak digigit nyamuk. Kemudian berbekal senter dan niat yang tulus kami berangkat menjalankan tugas. Kalian mungkin bertanya-tanya, untuk apa senter yang kami bawa. Senter ini kami gunakan untuk mencari jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti tadi. Meskipun suka tempat yang bersih, dia juga suka di genangan-genangan air yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah, seperti vas bunga, tempat makan burung atau ayam, sampah-sampah seperti gelas aqua, cumplung kelapa, ban bekas dan lain-lain. Nah jentik-jentik inilah yang harus kita berantas. Karena tidak seperti nyamuk Aedes aegypti yang mati bila disemprot obat nyamuk atau difogging, jentik-jentik ini tidak mati, dan nantinya akan jadi nyamuk dewasa. 

Jadi ketika menemukan mereka, kami akan segera membuang dan nasehati pemilik rumah untuk selalu menguras dan menutup tempat penampuang air serta mengubur barang-barang bekas yang bisa menjadi tempat penampungan air. Tapii..... namanya juga kami masih anak-anak. Banyak orang tua yang cuma mencibir saat kami nasehati. Biarlah kami tidak putus asa, ini semua demi kesehatan kita semua, jadi kami tidak pantang mundur. Namun banyak juga para orang tua yang berterimakasih dan kagum dengan semangat kami. Yah bahkan Spiderman pun ada yang membenci. Apa? Kalian bertanya apa? Apa yang kami dapatkan? Hmm... seperti para pahlawan super idola kami, kami tidak mendapat apa pun, tapi hati kami bahagia bila semua anak sehat dan dapat belajar serta bermain. Sedih rasanya bila ada teman kami yang sakit, apalagi penyakit DBD ini adalah penyakit yang mematikan.

Nah kalian juga mau memerangi DBD di lingkungan kalian kan? Nih aku beri gambar jentik-jentik dan nyamuk Aedes aegypti, supaya kalian bisa mengenalinya di mana pun.

Hasil gambar untuk jentik-jentik nyamuk aedes kemenkes ri
 (sumber: depkes.go.id)

Seperti halnya penjahat yang kerap memakai baju garis-garis hitam, nyamuk Aedes aegypti juga mempunyai ciri-ciri kaki nya bergaris-garis hitam
Hasil gambar untuk dalton bersaudara lucky luke

Hasil gambar untuk nyamuk aedes aegypti depkes
(sumber: kemenkes RI)
Sekarang kalian sudah mengenal bentuk-bentuk nyamuk pembunuh ini dan anaknya khan?

Sayangnya, tahun ini aku sudah kelas VI SD, sebentar lagi aku harus menghadapi ujian. Maka, aku harus konsentrasi belajar supaya nilaiku baik. Nah kalian mau kan menggantikanku dan teman-teman yang kelas VI untuk melawan penyakit demam berdarah ini kan? Dengan ini aku menyerahkan tongkat estafet ke tangan kalian. Tapi jangan kawatir, bila aku sudah lulus, aku akan kembali bahu-membahu bersama kalian melawan penyakit ini. Jadi, tak perlu bisa berlari secepat kijang atau bertenaga sekuat gajah bukan, untuk jadi seorang pahlawan.  Salam Sehat.

Wednesday, January 30, 2019

Cerita Anak Edukasi : Surat dari Anki

Cerita anak kali ini akan berbagi kisah yang akan mengedukasi anak-anak tentang penyakit kecacingan. Siapa ya kira-kira yang akan memberi kita edukasi kita kali ini?


SURAT DARI ANKI


Dear Sobat Ocha

Apa Kabar?
Kalian pasti bertanya-tanya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya. Kurasa, kita pernah bertemu. Walaupun mungkin kalian tidak menyadarinya. Perkenalkan, kalian boleh memaggilku Anki saja. Nama lengkapku cukup keren, Ancylostoma duodenale. Beberapa orang lebih suka memanggilku si cacing tambang. Nama itu mengacu pada daerah asal sukuku. Sebetulnya kurang tepat, karena kami tidak hanya tinggal di tambang. Kami bisa tinggal di pasir pantai, sungai, atau dekat di hatimu, yaitu di ususmu. Ah, kalian terkejut ya, karena tidak menyadarinya. Beberapa manusia memanggil kami dengan cacing kait, karena kami punya kait untuk menancap pada usus kalian.
Supaya kalian tidak penasaran, ini kuberi kalian fotoku.
Ini fotoku

                                                                                                       (sumber: parasite.org.au)

Saat ini, beberapa saudaraku mungkin sedang bersama kalian. Yah bagi kami, tubuh kalian ibarat lumbung padi yang bisa dimasuki dan kami curi makanannya. Sepupuku si Ascaris lumbricoides atau yang sering dipanggil cacing tanah, biasanya masuk ke tubuh kalian melalui mulut, yang bagaikan pintu bagi bangsa kami. Mereka biasanya, menyusup sebagai telur dalam sela-sela kuku jari kalian. Sedangkan keluargaku lebih menyukai gaya ninja, yaitu menembus kulit bak ninja menembus dinding. Biasanya kami masuk melalui kaki kalian, saat kalian berjalan-jalan di kampung kami tanpa alas kaki. Pertama-tama, kami akan menempel di kulit kalian, kemudian membuat terowongan di bawah kulit. Biasanya saat itu, kalian akan merasakan gatal-gatal.  Terowongan itu akan mencapai pembuluh darah kalian. Dari sana, kami harus berenang mengarungi aliran darah, menuju usus kalian. Di sanalah kami akan menancapkan kait kami untuk menetap dan menyerap sari-sari makanan yang kalian makan.

                                                Ini foto terowongan pertamaku
                                                                                                    (sumber: merckmanual..com)

Ya..ya.. aku tahu, kalian pasti menganggapku jahat, karena mencuri zat-zat makanan dari kalian. Sehingga tubuh kalian kurus kering sedangkan tubuh bangsa kami menjadi gemuk. Tapi, itu masa lalu. Sekarang, aku sudah bertobat. Aku memilih jalan hidup yang disebut bangsa kalian sebagai vegetarian. Aku makan dari sisa-sisa makanan, mahluk hidup dan daun-daun busuk. Aku tahu selama ini aku telah merugikan kalian. Aku membuat kalian menjadi kurang gizi, stunting dan bodoh, karena makanan yang kalian makan aku hisap menjadi nutrisiku.

Maka itu, malam ini, secara sembunyi-sembunyi, aku menulis surat untuk memperingatkan kalian dari bangsa kami. Supaya kalian selamat dari bangsa kami, caranya mudah, potonglah kuku kalian pendek-pendek, cucilah selalu tangan kalian dengan sabun setiap kali akan makan dan sehabis buang air besar, serta jangan lupa memakai alas kaki.
Oh, tidak.. sepertinya ada yang datang. Aku harus pergi. Ingat selalu pesanku. Waspadalah, jangan sampai bangsaku menguasai tubuh kalian. Sampai jumpa lagi. Salam Damai.

Sahabat Barumu

Anki

Sunday, January 27, 2019

Museum History of Java ; Noon At The Museum

NOON AT THE MUSEUM


Halo.. Sobat Ocha, jumpa lagi dengan Mama Ocha. Kali ini Mama mau bercerita tentang siang Mama di Museum History of Java bareng Ocha.

Museum ini letaknya di Yogya bagian selatan, tepatnya di Jalan Parangtritis km 5,5, nggak jauh kok Sob. Bentuk museum ini juga unik lho. Museum ini berbentuk piramid. Iyess bangunan limas segi empat yang sering kita lihat jadi ikon Negeri Mesir, tempat para Firaun dimakamkan. Hihihi maaf ya gak ada foto full piramid nya.

Eh, tapi sebelum kalian masuk ke museum ini, ada baiknya kalian download aplikasi "history of java museum ar" di hp mama atau papa kalian. Dengan aplikasi ini, pada foto-foto bertanda khusus, gambar dalam foto, bisa tampak keluar dari fotonya. Meganthropus erectus bisa tiba-tiba keluar dan meraung-raung. Mirip-mirip film "The Night in The Museum" lah. Eh kalian juga bisa foto dengan aplikasi ini lho.

Pertama masuk kami disuguhi film singkat tentang terjadinya Indonesia, tentang zaman es dan pergeseran lempeng-lempeng bumi. Setelah itu, barulah kami masuk ke dalam museum dan koleksinya. Sama dengan piramid yang di Mesir, memasuki museum History of Java ini, Sobat Ocha juga akan seperti memasuki labirin.
Hasil gambar untuk labirin

Tapi, jangan kuatir, Sobat Ocha tidak akan tersesat karena ada pendamping dari museum yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian dan mengantar sampai pintu keluar. Di dalam museum ini, Sobat Ocha juga akan dibuai dengan alunan tembang-tembang Jawa. Hayo siapa di antara kalian yang pintar nembang Jawa? Mama Ocha pingin tapi gak bisa hehehe. Ocha, kamu pingin gak?

Hihihi terus terang, Mama Ocha ini jarang masuk museum, jadi di sini Mama Ocha terkagum-kagum menemukan benda-benda dari tahun 700an sebelum Mataram Hindu yang unik-unik. Bayangkan sobat Ocha, jaman segitu sudah ada patung kecil anjing dari perunggu. Dan banyak lagi barang-barang unik lainnya, seperti dandang wadah nasi dari perunggu, seterika dan lain-lain. Di zaman kerajaan banyak porselin-porselin berhiaskan kaligrafi yang justru dari China, bukan dari Arab.

Terus, ada satu lagi barang patung perunggu yang menarik perhatian Mama Ocha, yaitu patung paksi naga liman dari Kesultanan Cirebon. Patung ini menarik karena mirip mahluk mitologi dari Mesir yaitu Sphinx. Patung ini bertubuh singa, bersayap, berkepala naga dan berbelalai gajah yang membawa tombak. Patung ini katanya menyimbulkan bahwa Kesultanan Cirebon adalah Kesultanan yang terbuka bagi etnis apa pun. Kepala naga melambangkan negeri China, belalai gajah melambangkan bangsa India, sedangkan sayap melambangkan buroq dari negeri Mesir.



Tapi karena penasaran, Mama Ocha browsing mahluk ini. Ternyata, di belahan utara Indonesia, yaitu kerajaan Kutai di Kalimantan ada mahluk mitologi sejenis paksi naga liman ini, bernama lembuswana. Lembuswana sama-sama berkepala naga, berbelalai gajah, dan bersayap, tetapi bertubuh lembu dengan sisik ikan. Lembuswana ini dipercaya tinggal di dasar sungai dan merupakan tunggangan Betara Guru. Ah jadi ingat hippogriff nya Harry Potter. Mungkinkah karena disebutkan di berbagai kebudayaan, hewan jenis ini memang dulu benar-benar pernah ada?? Ah Mama Ocha kok jadi melantur.

Kembali ke Museum History of Java. Di sini, juga tersimpan barang-barang peninggalan Sri Sultan HB IX. Salah satunya adalah busur dan panah. Sayangnya busur ini patah, karena... Ah biar pemandu museum aja yang cerita sama Sobat Ocha besok kalau kalian main ke sini. Biar penasaran hehehe. Eh ada bocoran nih Sobat Ocha, sekitar bulan Maret, di museum ini akan dibuka pelatihan memanah gaya Jogja lho. Buat anak-anak seumuran kalian. Keren kannn.

Bagian akhir dari Museum ini adalah diorama. Nah di sini Sobat Ocha bisa foto-foto dengan baju jawa dan berakting seperti pedagang, kuli pelabuhan, pemburu harimau, penabuh gamelan dan lain-lain. Sayangnya Ocha gak mau pakai baju yang disediakan huuu..hu..hu..

Nah, setelah itu keluar lah kita dari Museum History of Java. Eh ada bocoran lagi, nantinya setelah keluar dari museum, pengunjung akan disediakan spot foto tiruan jalan malioboro, seperti di Museum Angkut. Tapi sekarang belum jadi.

Wah panjang ya cerita Mama. Sebetulnya masih banyak yang seru-seru di sini, tapi takut kalian bosan membaca. Ya udah, sekian dulu cerita Mama Ocha tentang Noon at the Museum History of Java. Semoga bisa menambah wawasan kalian yaa.