PENCURI
LIBURAN
Libur
tlah tiba..libur tlah tiba hatiku gembira… Suara merdu Tasya
terngiang-ngiang di telingaku. Entah siapa yang pertama kali menyuntikkan lagu
itu di benakku, sehingga lagu itu diputar terus-menerus secara otomatis di
kepalaku. Sementara sekelilingku ramai dengan celoteh teman-temanku tentang rencana
liburan mereka. Si Olla dengan studio trans Bandung nya, Dede dengan rencana
Dufannya dan selusin tempat yang belum pernah kudengar terlontar dari mulut
teman-temanku yang lain. Kutopang kepala dengan kedua tanganku alih-alih
menutup kedua telingaku. Namun, tak urung euphoria liburan itu masih juga merembes
dari sela-sela jemariku, memasuki liang telingaku, menembus sawar otakku dan
mengaktifkan saklar iri dan jengkelku.
Orang tuaku adalah pesuruh sekolah
ini dengan status Honda, kependekan dari honorarium daerah. Sehari-hari, ibuku
menambah keuangan keluarga dengan berjualan makanan ringan untuk anak-anak
sekolah. Dengan kondisi ekonomi seperti ini, status juara kelas yang kusabet tujuh
kali berturut-turut tidak berpengaruh apa pun terhadap rencana liburanku.
Apalagi liburan, berarti pemasukan keluargaku menurun karena ibuku tidak bisa
menjual penganan ringan. Aku benci libur sekolah. Seandainya sekolah terus berjalan dan tidak ada hari libur,
pikirku.
“Baiklah anak-anak, selamat
berlibur. Sampai jumpa di tahun ajaran berikutnya,” akhirnya Bu Hikmah masuk
kelas dan membubarkan kami. Yeay..!! sorak sorai anak-anak sambil berhamburan
keluar kelas, Daa..aa sampai jumpa lagi! Kami saling melambai. Aku pun ikut
melambai tanpa semangat. Akhirnya kelas telah sepi dan tinggal aku sendiri.
Kutelungkupkan kepalaku di atas meja. Aku masih malas kembali ke rumah.
Tiba-tiba seseorang menyentuh
sikuku. Pasti ibu, pikirku. Kuangkat
kepalaku dan mendapati sesosok gadis seusiaku yang belum pernah kulihat. “Eh,”
belum sempat aku berkata apa-apa, gadis itu tersenyum. “Kenapa sedih?”
tanyanya. “Aku benci libur panjang, seandainya sekolah tidak perlu libur,”
jawabku spontan.
“Ayo
ikut aku,” ditariknya tanganku supaya mengikutinya. Entah mengapa aku mengikuti
gadis tak dikenal itu.
“Kita
kemana?” tanyaku.
“Kau
betul-betul ingin liburan ini dibatalkan?” ia balas bertanya. “Bagaimana dengan
teman-temanmu yang sudah mempunyai rencana segudang untuk mengisi liburannya?”
“Aku
tidak peduli,” tukasku. “Justru aku senang mereka batal berlibur.” Ha..ha..
ha.. tawaku, persis seperti tokoh-tokoh jahat dalam sinetron.
Gadis
itu tampak menghela napas. “Ayo, ada yang bisa mengabulkan keinginanmu”
ajaknya.
Tiba-tiba
pikiran mistis merasuki pikiranku, “Memangnya Kau siapa? Apa Kau ibu periku?”
Gadis
itu memutar bola matanya. “Apa aku tampak setua itu?” tanyanya kesal. “Aku… hmm
sebut saja aku peri harapan,” jawabnya kemudian.
Ia mengajakku mendaki lebih jauh
bukit belakang sekolah. Setelah menyeberang sungai kecil tempatku biasa bermain,
kami melingkari sebuah batu besar yang selama ini luput dari perhatianku. Di
balik batu itu, ternyata terdapat ruang kecil yang menjorok ke dalam batu
membentuk semacam relung gua. Di sana duduklah seorang nenek tua, berkebaya
lurik dan berkain batik. Rambutnya yang berwarna putih abu-abu digelung rapi ke
belakang. Wajahnya manis dan ramah. Di depan sang nenek, terdapat lempeng batu
datar semacam altar.
“Kau
ingin liburan ini tidak pernah terjadi Nak?” tanyanya ramah.
Aku
mengangguk.
“Kau
tidak peduli dengan teman-temanmu yang sudah lama mengharapkan liburan ini?”
tanyanya lagi?
Aku
kembali menggeleng.
Tapi
tahukah Kau, ada harga untuk semua hal buruk yang Kau niatkan?”
“Oh..oh
berapa Nek?”
“Hmm…,”
nenek itu memandangku seperti sedang menaksir emas. “Usiamu akan bertambah satu
tahun lebih cepat daripada teman-teman sebayamu.”
Hah.. satu tahun,
pikirku, apalah arti satu tahun di usiaku
yang masih belia ini. Cepat-cepat aku mengangguk setuju.
“Hi..hi..hi..,”
nenek itu tertawa. Apakah tokoh jahat
selalu gemar tertawa seperti ini ya, pikirku sambil menggaruk-garuk kepala.
“Lalu,
apakah teman-temanku akan menyadari liburan mereka yang dibatalkan?” tanyaku
menghentikan tawanya.
“Uhuk..uhuk..uhuk..
Hmm.. tidak, mereka hanya akan merasakan kelesuan fisik dan rasa kesal yang
sama bila sesuatu yang sangat kau inginkan diambil dengan paksa darimu,
sedangkan untuk lamanya, tergantung dari seberapa besar keinginan mereka akan
liburan kali ini,” jawabnya terbatuk-batuk, mungkin tersedak tawanya yang kuinterupsi
dengan tiba-tiba.
“Kemarikan
tanganmu,” sambungnya sambil menarik tanganku ke arahnya. Aww, ditusuknya jari manisku dengan semacam duri tanaman. Semoga duri itu steril, sehingga aku tidak
terkena tetanus, pikirku galau. Darahku pun menetes di atas sebuah mangkuk
pualam putih. Setelah jariku meneteskan tiga tetes darah, nenek menjepitkan
gumpalan seperti daun tembakau diantara jari jempol dan jari manisku, mungkin
untuk menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi.
“Setetes
darah perawan yang mendengki, di dalam sepercik air sungai, sepercik air laut, bunga
pukul empat dan akar rumput kalanjana ditambah essens sinar bulan biru,” nenek
itu menggumam, tangannya bergerak menambahkan serbuk putih kebiruan yang
berkilau ke dalam mangkuk yang berisi air, tetesan darahku dan beberapa kuntum
bunga dan rerumputan itu. Setetes darah
perawan yang mendengki..oh, sebersit penyesalan dan rasa benci terhadap
diri sendiri menyusup dalam hatiku. Namun rasa itu segera menghilang seperti
mendung ditiup angin.
Tiba-tiba angin berputar di sekeliling kami, membuat
daun-daun berpusing dan porak poranda, Anehnya, kami seolah-olah berada di
pusat angin beliung itu, tenang dan tidak terganggu sama sekali, sehingga aku
bisa memperhatikan langit yang berubah-ubah warna di balik pusaran angin. Biru
emas saat senja, biru gelap, hitam, emas lagi berkali-kali. Setelah beberapa
saat, angin pun mereda. Tiba-tiba aku sudah berdiri di depan kelas VII a. Aku
merasa seperti terbangun dari tidur. Apakah
aku baru saja bermimpi, pikirku. Tetapi, aku merasakan sesuatu di jempol
dan jari manisku. Aku melihat tembakau pemberian sang nenek terjepit di antara
jariku. Aku pun mulai melangkah dengan sedikit linglung. Hari sudah beranjak
senja, langit keemasan di ufuk barat, mentari masih terlihat separo, namun di
sisi timur, bulan segaris sudah mulai muncul seolah tak sabar dengan pergantian
tugas menerangi dunia.
Aku pun melangkah menuju rumahku di belakang sekolah. Aku
membuka pintu belakang rumahku, ibuku tampak sedang memasak, Aroma sedap sayur
lodeh dan ikan asin menghambur ke hidungku.
“Kau
sudah pulang Nak? Dari mana saja?” tanya ibuku sambil mencium keningku. Aku
cuma tersenyum.
“Nah
ini dia juara kita sudah pulang,” tiba-tiba ayahku masuk dari kamar tamu,
sekaligus kamar keluarga dan kamar makan. Tangan kanannya melambai-lambaikan
selembar kertas yang mirip tiket. “Lihat ini, tiket kereta ke jogja, kau bisa
berlibur ke rumah budemu, ayah dan ibumu sudah menabung supaya jagoan ayah bisa
berlibur ke jogja,” kata ayahku, wajahnya berbinar-binar.
Seketika
mulutku terbuka, liburan di Jogja?? Kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah cerita?”
tuntutku.
“Kami
ingin memberi kejutan menyenangkan buatmu Nak.”
Aku
tergugu. “Aku masuk kamar dulu Yah, Bu,” kataku kemudian. Kedua orang tuaku pun
saling berpandang-pandangan dengan heran.
Kuhempaskan tubuhku di kasur
tipisku, liburan ke Jogja adalah liburan yang sangat kuidam-idamkan dan terus
kuminta pada ayah dan ibukku sejak beberapa tahun yang lalu. Dan, ketika
harapanku itu akan menjadi kenyataan, aku malah membuat liburan ditiadakan.
Rasanya aku ingin menangis, jadi seperti ini rasanya bila impian yang ada di
depan mata direnggut dari mu. Aku memikirkan teman-temanku dan membayangkan
mereka juga mempunyai rasa yang sama walaupun tidak menyadarinya. Oh maafkan aku teman-teman, sesalku.
Namun sesal kemudian tak berguna. Aku pun jatuh tertidur dengan air mata
mengalir di pipiku.
Kukuru…yukkk… Aku terbangun oleh
pekikan si Rambo. Hmm.. ini liburan, eh..oh tidak.. aku terduduk, hari ini aku
tidak jadi libur, pikirku dengan hati nelangsa. Aku bergegas bangun dan
merapikan tempat tidur ku. Segera kusambar handuk untuk mandi. Ibuku yang
sedang menghirup secangkir teh di dapur, memandangku dengan aneh.
“Tumben
liburan seperti ini kau mandi pagi-pagi Arini. Keretamu ke Jogja baru berangkat
besok kok,” katanya sambil tersenyum.
“Hah??
Jadi hari ini jadi libur?” tanyaku tidak percaya.
Ibuku
ganti membelalak, “Masakan Kau lupa? Tentu saja ini liburan panjang yang
dinanti-nantikan seluruh anak sekolah di Indonesia,” ibu mulai kebiasaan
hiperbolanya.
Oh benarkah? Aku bertanya-tanya.
Hatiku belum tenang sebelum waktu masuk sekolah tiba. Akhirnya, detik demi
detik berlalu dan waktu menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Ketika saat
itu halaman sekolahku masih juga sepi, aku baru bisa menghela napas lega.
Tawaku keluar tanpa bisa kutahan. Hari ini libur….. Berarti perjumpaanku dengan
sang nenek pemutar waktu hanya mimpi. Tapi
daun tembakau itu… ah entahlah masa bodoh. Oh.. betapa tenangnya hatiku.
Kutarik tangan ibuku dan kuajak memutar-mutar menari bahagia, sambil berteriak
libur ke Jogja..libur ke Jogja. Ibuku walaupun heran dengan kegiranganku yang
terlambat ikut tertawa senang.
Namun ditengah kegembiraanku,
terselip rasa malu di hatiku, bila mengingat rasa iri dengkiku terhadap
keberutungan teman-temanku. Maafkan aku Tuhan, pintaku, dan aku berjanji dengan
pertolongan Rahmat- Mu aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Sesal dan
doaku pada Tuhan.








