Cerita di bawah ini, merupakan cerita anak fabel. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita anak dengan tokoh utama binatang. Dari cerita binatang, pelajaran yang diambil tidak berkesan menggurui sehingga diharapkan lebih masuk ke benak anak.
CIAP BELAJAR TERBANG
Pagi ini adalah pagi yang sangat
indah. Mentari tersenyum dengan lembut dari balik awan. Sang angin menjelajah
perlahan-lahan menghadirkan kesejukan di seluruh hutan rimba. Daun-daun saling
bergesekan lembut, sebagian tampak terantuk-antuk dibelai angin sepoi-sepoi.
Semua
hewan, warga hutan ceria pun tampak bersemangat menikmati suasana pagi ini.
Tiga bersaudara kelinci tampak berlompatan, asyik bermain petak umpet.
Bulu-bulu mereka yang putih bersih tampak sesekali menyembul di antara hijaunya
rerumputan. Keluarga kambing dan keluarga rusa berbagi rumput dengan damai.
Beni si bunglon menempel tenang pada pohon mangga, nyaris tak nampak sesuai
dengan sifatnya yang tidak mau menonjolkan diri.
Sementara
di atas pohon mangga, di antara rimbunnya dedaunan, terdengar keramaian di
sarang keluarga Pipit. Tampaknya Mami Pipit sedang bersiap memberi pelajaran
terbang yang pertama kali untuk ketiga anaknya.
“Nah,
anak-anakku yang manis. Cuaca pagi ini sangat cocok buat kalian untuk belajar
terbang.” Seru Mami Pipit.
“Hore..hore!
Akhirnya kita belajar terbang!” Sorak Cicit dan Cuit bersahutan.
“Sebelumnya, ayo
kita pemanasan dulu,” sambung Mami Pipit, yang kemudian memberikan aba-aba
sambil memberikan contoh gerakan, “Satu dua satu dua.” Seru Mami Pipit seraya
menganggukkan kepala, menggelengkan kepala, memutar sayap dan gerakan-gerakan
pemanasan lain.
Cicit dan Cuit tampak bersemangat
mengikuti gerakan-gerakan Mami Pipit. Tapi hei, lihat rupanya ada yang tidak
bersemangat. Ciap mengikuti gerakan-gerakan Sang Mami dengan malas. Sebenarnya,
Ciap takut belajar terbang. Pohon mangga ini tinggi sekali. Masih terbayang di
benaknya suara berdebum buah mangga yang jatuh dari pohon ini. Belum lagi
ketika ia melongok ke bawah dan mendapati buah mangga itu sudah tidak berwujud.
Bagaimana kalau ia gagal terbang, atau saat terbang tiba-tiba sayapnya terkena
kejang otot, kram sehingga tidak bisa digerakkan? Oh tidak.. Pikir Ciap, ia
tidak mau bernasib seperti buah mangga itu.
“Ciap, “ tegur
Mami Pipit, “ayo gerakkan sayapmu dengan benar seperti ini.” Ujar Mami Pipit
seraya memberi contoh.
“Mami,
sepertinya aku belum siap untuk belajar terbang. Lihat buluku belum selebat
punya kakak-kakak,” jawab Ciap dengan suara memelas, “tunggulah sampai buluku
tumbuh lebih banyak lagi.” Pinta Ciap.
“Baiklah,” ujar
Mami Pipit sambil menghela napas, “Kau lihat dulu kakak-kakakmu ya Nak.”
Mami
Pipit tahu itu hanya alasan Ciap yang masih takut belajar terbang. Ciap memang
menetas paling akhir. Tapi tentu saja bulunya sudah selebat kakak-kakaknya.
Ciap hanya 25 detik lebih lambat menetas, daripada Cuit. Mami Pipit berharap,
keberanian Ciap tumbuh setelah melihat kedua kakaknya berlatih terbang.
Sementara kedua kakak Ciap, Cicit dan Cuit mulai melompat sambil
mengepak-ngepakkan kedua sayapnya dengan gembira. Keduanya memang ingin segera
bisa terbang agar bisa menjelajah seantero hutan ceria, yang diceritakan ibunya
sangat indah.
Ketika
pelajaran terbang kedua dimulai, Ciap lagi-lagi memberi alasan.
“Mami,
sepertinya hari ini angin berhembus kencang. Tentu tidak bagus untuk aku yang
baru pertama kali belajar terbang.”
Demikian juga saat pelajaran terbang ketiga, keempat dan seterusnya.
Ada-ada saja alasan Ciap, mulai dari tidak enak badan, matahari yang bersinar
terlalu terik, suara-suara binatang hutan yang membuatnya tidak bisa
konsentrasi, dan seribu satu alasan lain. Bahkan Ciap pernah mengatakan bahwa
kemungkinan, ia berasal dari telur unggas lain yang tidak bisa terbang dan
secara tidak sengaja dierami oleh maminya. Tentu saja alasan itu sangat konyol,
karena wajah Ciap sangat serupa dengan mami dan kedua saudaranya. Sementara itu, kedua kakak Ciap mulai mahir
terbang. Keduanya sudah bisa terbang lima putaran tanpa henti, mengelilingi
pohon mangga tempat mereka tinggal. Ciap juga tidak tertarik, ketika Cicit dan
Cuit menceritakan betapa asyiknya bisa terbang.
Sampai saat ini Mami Pipit masih bersabar. Ia tidak tega memaksa anak
bungsunya itu, untuk belajar terbang.
Sampai pada suatu malam yang sangat
hening. Keluarga pipit sudah tertidur lelap. Tiba-tiba Mami Pipit terbangun. Ia
merasa ada sesuatu yang mengancam keselamatan jiwanya dan anak-anaknya. Benar
saja, rupanya seekor ular tedung hijau sedang mendesis-desis di dekat
sarangnya.
“Cicit, Cuit,
Ciap!” teriaknya,”ayo bangun!”
Cicit, Cuit dan
Ciap langsung terbangun kaget mendengar teriakan mami pipit. Ketiganya pun
segera sadar bahaya yang mengancam. Mami Pipit berdiri tegak melindungi ketiga
buah hatinya sambil bercuit-cuit mengusir ular tedung itu pergi. Namun tidak
terbayang rasa takut sedikit pun di mata ular tedung itu. Tampak jelas, ia
tidak berniat melepas keempat mangsanya. Sementara Cicit, Cuit dan Ciap gemetar
ketakutan di belakang mami pipit. Ketika sadar ular itu sama sekali tidak takut
padanya, Mami Pipit segera memberi aba-aba.
“Cicit, Cuit ayo
terbang!”
Cicit dan Cuit
yang memang sudah mahir terbang, langsung mengepak-ngepakkan kedua sayapnya dan
terbang. Tinggal Ciap yang berdiri kebingungan.
”Oh..oh aku akan
ditinggal sendirian menjadi mangsa ular,” pikir Ciap.
Ia mengira
maminya pun akan segera terbang meninggalkannya. Ini semua karena kemalasan dan
ketakutannya untuk belajar terbang. Ternyata tinggal diam di sarang bukanlah
jaminan dirinya selalu terhindar dari bahaya. Tapi, oh ternyata maminya tidak
meninggalkannya. Mami Pipit tetap berdiri menghadang diantara ular tedung dan
Ciap. Sementara sang ular semakin merangsek mendekat sambil mendesis-desis
sadis.
“Aduh harusnya
mami bisa segera terbang menyelamatkan diri,” pikir Ciap,”sekarang mami akan
menjadi kurban keganasan ular tedung gara-gara kemalasanku.”
“Mami, mami
terbang saja.” Ucap Ciap disela-sela isak tangis.
Sementara kedua
saudara Ciap berteriak-teriak memanggil mami pipit dan Ciap.
“Tidak Ciap,
Mami akan tetap di sini menjagamu.” Jawab Mami Pipit,
Oh Ciap sangat
terharu.
Melihat keberanian maminya dan
menyadari cinta mami pipit yang begitu besar pada dirinya, Ciap tidak mau
menyerah. Ia harus menebus kesalahannya, pikir Ciap. Ciap lantas
mengingat-ingat pelajaran terbang yang pernah diberikan maminya. Ciap memang
tidak berlatih, tapi untunglah otaknya mencatat apa yang dikatakan maminya.
Jadi, sayap diangkat, diregangkan kemudian dikepakkan. Pikir Ciap sambil
dipraktekkannya. Hei, ternyata sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat.
“Mami!”
teriaknya, “lihat, aku bisa terbang!”
Ternyata rasa
takut membuat Ciap menguasai pelajaran terbang dengan sangat cepat. Mami Pipit
sangat gembira melihat Ciap bisa terbang. Ia menyuruh Ciap bergabung dengan
kedua kakaknya.
Mami Pipit pun segera mengepakkan
kedua sayapnya dan mulai mematuki ular tedung itu, sambil terbang menjauh bila
sang ular hendak balas menyerang. Akhirnya, menyadari buruannya sulit untuk di
jadikan santapan malamnya, Ular tedung itu merayap menjauh, meninggalkan sarang
keluarga pipit. Keluarga pipit pun bersorak gembira merayakan kemenangan mami
mereka.
“Oh Mami, ternyata terbang itu
mudah! Ternyata terbang itu sangat menyenangkan! Ternyata aku memang anak Mami
he..he..” cerocos Ciap dengan mata
berbinar gembira.
“Tentu saja Nak,
Kau tidak akan pernah tahu sesuatu itu mudah atau sulit, bila tidak pernah
mencoba.” jawab Mami Pipit
“Benar kan,
kataku bahwa terbang itu menyenangkan,” sambung Cicit kakaknya.
“Asyik! Besok
kita bisa bermain bertiga melihat-lihat hutan ceria,” seru Cuit.
“Tapi ingat,
kalian harus berhati-hati,” pesan Mami Pipit.
Ciap tersenyum
senang sekaligus malu.
“Mami,”
kata Ciap,”maaf ya, aku nyaris membuat Mami celaka.”
“Tidak Nak,
memang tugas seorang ibu untuk menjaga anak-anaknya. Yang penting kita semua
selamat dan Kau bisa memetik pelajaran berharga dari peristiwa tadi malam.”
Ujar Mami Pipit sambil memeluk ketiga anaknya.
“Dan tahukah Kau
Nak, hampir seluruh mahluk di bumi ini menginginkan bisa terbang seperti kita.”
Bisik Mami Pipit.
Sementara di ufuk timur, matahari mulai
menggeliat bangun dari peraduannya, hendak mengucapkan selamat pagi pada
seluruh alam. Mengintip dari antara pegunungan kemudian ikut tersenyum
menyaksikan kebahagiaan keluarga pipit.
***