Saturday, July 27, 2019

Cerita Anak Misteri Coklat yang Berubah Rasa

Satu siang di negeri pelangi, Indigo si kurcaci kecil terlihat bergegas menuju rumahnya dengan wajah cemberut. Rupanya, Indigo kesal karena mobil-mobilan baru kesayangannya rusak. Bemper depannya peyok karena ditabrakkan pohon oleh Lila, adik bungsunya yang baru berumur tiga tahun. Namun, bayangan segelas es susu coklat yang dingin, sedikit menyejukkan hatinya. Indigo memang sangat suka coklat. Coklat selalu membuat hatinya gembira dan ceria. Kemarahan dan kekesalannya selalu lumer bila lidahnya merasakan nikmatnya coklat.

Sesampainya di rumah, Indigo segera membuka kulkas. Ibunya memang selalu menyediakan segelas susu coklat dingin untuk Indigo. Indigo segera meneguk cairan coklat nikmat itu. Tapi, wuekk..yek Indigo mengernyitkan dahi. Es coklat ini rasanya aneh sekali, pahit, getir dan sedikit masam. Mungkin coklat bubuknya kadaluarsa, pikirnya.
“Hai Indigo,” tiba-tiba terdengar suara ceria Violet, “ayo main ketempatku, ibuku membuat coklat mouse.” Ajaknya. Violet adalah kurcaci tetangga Indigo.
Hmm..coklat mouse, wah pucuk dicinta, ulam tiba, piker Indigo. Terbayang di benak Indigo, coklat mouse yang lembut, manis, dingin bermain-main di lidahnya.  

“Horee coklat mouse!!.” sorak Indigo kegirangan, sambil berlari menuju rumah Violet. Aku akan mengecek tanggal kadaluarsa di bungkus coklat, segera setelah aku pulang nanti, janji Indigo dalam hati.

            Kedua anak itu segera berlari menuju rumah Violet dan menyambar coklat mouse yang sudah tersedia di atas meja. Namun, begitu coklat mouse menyentuh lidah Indigo dan Violet, wajah kedua kurcaci itu langsung berubah. Sedetik kemudian, keduanya sibuk meludahkan cairan coklat kental.

“Ih, kenapa coklat mousenya rasanya jadi seperti susu basi begini ya,” komentar Violet sambil bergidik memandang gelasnya. Indigo jadi ingat rasa es susu coklatnya yang pait dan getir. Sejurus kemudian, Indigo meraba kantung celananya. Ia teringat permen coklatnya yang juga lengket tapi keras dan tidak bisa dimakan.
“Aneh,” kata Indigo pada Violet dan dirinya sendiri,”kenapa hari ini semua coklat jadi tidak enak ya?”
“Iya, aku jadi mual dan sepertinya tidak ingin makan coklat lagi selamanya.” Kata Violet.
Wajah kedua kurcaci itu menjadi murung. Tiba-tiba kekesalan Indigo pada Lila muncul lagi. Ia nyaris menyalahkan Lila atas berubahnya cita rasa coklat.

            Beberapa saat kemudian, kedua kurcaci itu terusik dengan suara ribut di luar. Rupanya tiga kurcaci kecil Tosca, Oranye dan Magenta sedang sibuk berdiskusi.

“Hai teman-teman.” Sapa Indigo.
Indigo dan Violet pun segera bergabung dengan teman-temannya. Ternyata mereka juga sedang membicarakan rasa coklat yang berubah tidak enak.
“Teman-teman, kita harus menyelidiki misteri ini.” ujar Indigo dengan mimik serius.
“Tapi, bagaimana caranya?” sahut Magenta
”Kurasa, kita harus menemui Peri Coklat.” Usul Tosca
“Kau tahu rumahnya?” Tanya Magenta
“Aku tahu,” jawab Tosca, “Ayahku pernah mengajakku ke rumah Peri Musim Semi untuk membahas masalah perkebunan. Rumah Peri Coklat sekitar tiga rumah darinya.” Tosca menjelaskan.
“Ayo, siapa takut.” Balas kurcaci lain dengan  riang.
Kelima kurcaci kecil itu pun  beramai-ramai menuju rumah peri coklat.

            Ternyata rumah Peri Coklat cukup jauh. Mereka harus melewati hamparan kebun jagung, menyeberangi sebuah sungai kecil, semak labu kuning dengan buah-buahnya yang sebesar kursi, dan setelah melalui gerbang mawar yang sangat indah, sampailah mereka di permukiman para peri. Rumah Peri Coklat berbentuk cake blackforest, yang kelihatannya sangat enak. Si gembul Oranye tidak tahan untuk tidak mencuil sedikit dinding rumah yang terbuat dari coklat. Kalau saja tidak mendapatkan tatapan galak dari Violet, mungkin rumah Peri Coklat akan habis dilahap Oranye. Tapi tampaknya rumah Peri Coklat sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ketika sedang sibuk mencari keberadaan Peri Coklat, tiba-tiba muncul seorang wanita gemuk, berwajah ramah berpakaian serba putih, dengan senyum cemerlang, yang mengingatkan anak-anak pada artis iklan pasta gigi di televisi.

“Hai Peri Gigi,” sapa Tosca.

Ternyata wanita itu adalah Peri gigi. Hm tentu saja, Indigo baru memperhatikan bahwa di sebelah rumah Peri Coklat, berdiri sebuah rumah berbentuk gigi geraham yang besar, berwarna putih cemerlang. Di dinding sebelahnya tampak bersandar sebuah sikat gigi dan pasta gigi raksasa. Rupanya peri Gigi baru saja selesai menyikat rumahnya. Sarung tangan karet masih terpasang di kedua tangannya.

“Halo Tosca, halo Violet, halo anak-anak,” balas Peri Gigi sambil tersenyum ramah pada Tosca dan teman-temannya. “Apakah Kalian mencariku, untuk minta diajari cara menyikat gigi dengan baik dan benar?” Tanya Peri Gigi dengan wajah berseri-seri. Para Kurcaci kecil menggeleng. “Kami mencari Peri Coklat.” Jawab Tosca. Wajah Peri Gigi berubah menjadi suram.

Para Kurcaci kecil itu pun lantas berlomba-lomba menceritakan perihal semua coklat yang rasanya berubah menjadi tidak enak sehingga membuat hidup mereka menjadi muram dan tidak bersemangat, kepada Peri Gigi.

“Hmm, Peri Coklat memang sudah dua hari ini meninggalkan rumahnya,” kata Peri Gigi sedikit cemberut, “Sepertinya kemarin, aku melihatnya berjalan ke arah hutan” sambungnya. “Kurasa, Peri Coklat memang harus sedikit merenung.” Sungut Peri Gigi.
            “Kalau begitu, ayo kita cari Peri Coklat,” usul Indigo.
 “Kita harus mencarinya ke dalam hutan?” Tanya Orange, dia melihat ke sekeliling dengan gelisah dan takut-takut.
“Pergilah sekarang, semoga sebelum gelap Kalian sudah menemukannya” kata Peri Gigi, “Selama matahari bersinar, hutan cukup aman. Tapi ingat, bila Kalin tidak berhasil menemukan Peri Coklat, sebelum matahari terbenam, Kalian harus keluar dari hutan.” Pesan Peri Gigi.

Para Kurcaci kecil pun segera bergegas pergi, Oranye perlu sedikit dorongan dan tarikan supaya segera beranjak pergi.
“Hati-hati di jalan anak-anak, dan jangan lupa selalu menggosok gigi sesudah makan dan sebelum tidur,” teriak Peri Gigi lagi.
“Baiklah, kami pergi mencari Peri Coklat dulu ya Peri Gigi.” Pamit  Indigo dan teman-teman.

Para kurcaci kecil pun segera bergegas menuju hutan. Dari perumahan para peri, setelah melewati gerbang mawar, mereka berbelok ke kanan menuju hutan. Para Kurcaci kecil menyusuri sungai yang sangat jernih, yang mengalir masuk ke hutan. Disepanjang sisi sungai tumbuh pohon buah kressen dan murbei yang berbuah lebat. Hmm, yummy rasanya manis dan segar. Setelah berjalan beberapa saat, mendadak langkah Indigo terhenti, “Hei teman-teman, lihat ujung murbei ini ada coklatnya,” serunya, tangannya bergerak hendak memakan murbei berlumur coklat itu. Tapi “eh tunggu,“ tangannya ditangkap Oranye, “jangan-jangan ini lumpur dan bukan coklat.” Oranye mencium-cium murbei itu dan menjilat sedikit. “Eh iya,” cengirnya, “ini coklat.” Dan langsung melahap buah itu, “dan hmm nyam nyam, rasanya enak sekali.” Sambungnya. Kurcaci yang lain pun memetik murbei dan kressen yang saat ini ada coklatnya. Semuanya setuju kalau ini adalah coklat terenak yang pernah mereka makan. Tiba-tiba, auw gedebuk, Tosca yang bertubuh montok terpeleset saat akan menjangkau buah murbei yang agak tinggi. Karuan saja kurcaci yang lain, tertawa melihat wajah bulat Tosca yang berlumuran lumpur coklat. Tapi ia malah menampakkan cengiran lebar, “Es krim coklat,” seringainya.
“Berarti kita sudah dekat dengan Peri Coklat.” Simpul Indigo bersemangat.

            Para kurcaci kecil memperhatikan sekeliling mereka dan alangkah senangnya mereka ketika mengetahui hutan telah berubah menjadi surga coklat. Kulit pepohonan terbuat dari coklat. Di sepanjang jalan, bertaburan warna-warni coklat bersalut gula. Bunga beraneka warna yang ternyata terbuat dari coklat berwarna. Dan yang paling penting, coklat di sini tetap terasa enakk, tidak seperti di desa mereka. Meskipun begitu, mereka tidak lantas melupakan tujuan utama mereka mencari Peri Coklat. Para kurcaci kemudian memutuskan untuk mengikuti aroma coklat yang membangkitkan semangat.

Akhirnya di depan mereka tampak seorang wanita muda sedang duduk merenung di sebuah tunggul pohon. Ia berwajah manis, memakai pakaian dari serutan coklat yang mirip dengan kulit pohon. Rambutnya berhiaskan topi manik-manik warna-warni. Ketika berdiri di dekatnya, muncul perasaan gembira, nyamanan dan tentram di hati para kurcaci. Tapi kebalikan dari efek yang ditimbulkannya, wajah wanita muda itu tampak murung.

“Halo.. Apakah anda Peri Coklat?,” sapa Magenta, “karena tampaknya Anda sangat lezat.” Sambungnya, yang lantas mendatangkan sikutan dari kurcaci lainnya.
“Hai anak-anak,” balasnya, “Mengapa kalian bisa sampai di hutan ini?” sambung Peri Coklat lagi.

“Kami mencari Peri Coklat,” jawab Indigo,“Coklat di rumah kami, rasanya berubah menjadi tidak enak.”
“Hmh..,” desah Peri Coklat, “memang aku sengaja membuat coklat menjadi tidak enak dan mengasingkan diri di sini,” sambungnya, “Aku tidak ingin anak-anak menyukaiku lagi.”
“Kenapa Peri Coklat? Aku sangat menyukai coklat, bahkan sekarang aku ingin memakan topimu.” Sahut Tosca yang meyakini bahwa topi itu terbuat dari coklat salut gula.

Mau tidak mau Peri Coklat tersenyum mendengarnya. “Aku sangat sedih.  Kemarin, Peri Gigi bercerita padaku, bahwa hampir semua anak dan kurcaci giginya berlubang, karena mereka suka sekali coklat. Aku sangat mencintai kalian anak-anak. Aku tidak mau kalian tersiksa oleh sakit gigi karena aku,” jawabnya.

Para kurcaci menunduk malu, mereka semua punya lubang di gigi mereka, kecuali Violet. Tanpa sadar, tangan Indigo menyentuh pipi kanannya. Ya, gigi belakang kanannya memang berlubang, bila sakitnya datang, auw rasanya sungguh tidak karuan. Ia memang malas menggosok gigi, walaupun sudah diingatkan berulang kali oleh Ibu dan Ayahnya. Ia hanya ingat menggosok gigi, bila sakit giginya datang.

“Jangan salahkan dirimu Peri Coklat,” kata Violet, “gigi anak-anak berlubang karena malas menggosok gigi. Buktinya, gigiku tidak berlubang walaupun aku sangat suka coklat. Itu karena aku selalu menggosok gigiku pagi, sore dan sebelum tidur malam,” sambungnya seraya membuka mulutnya lebar-lebar, memamerkan deretan giginya yang bersih dan tanpa lubang. Wao teman-temannya menatap kagum. Jadi itu sebabnya Peri Gigi mengenali Violet di antara teman-temannya yang lain, piker Indigo.

“Benar Peri Coklat, aku memang malas menggosok gigi,” Magenta membuat pengakuan, Oranye dan Tosca manggut-manggut malu. Mereka semua merasa tidak enak, karena kesalahan mereka Peri Coklat menjadi sedih.

“Kembalilah ke peradaban Peri Coklat,” bujuk Indigo, “hari-hari kami menjadi muram tanpa kehadiranmu. Aku jadi mudah marah pada adik bungsuku dan tidak ada yang bisa menghilangkan kekesalanku, kecuali coklat.”
“Benarkah?” Tanya Peri Coklat, wajahnya sudah tidak semuram tadi. Para kurcaci langsung menganggukkan kepala sambil berusaha menampilkan wajah termanis yang mereka punya.

“Baiklah, kalian para kurcaci yang manis berhasil meyakinkanku,” kata Peri Coklat akhirnya setelah berpikir sejenak. Horee sorak para kurcaci kegirangan.

            Ditaungi lengkung indah pelangi di ufuk barat, para kurcaci kecil dan Peri Coklat pulang menuju pemukiman peri. Hari para kurcaci kecil ditutup dengan jamuan serba coklat yang sangat nikmat di rumah Peri Coklat. Kekecewaan para kurcaci terhadap coklat, terbayar sudah dengan berlipat-lipat sore itu. Mereka berjanji dalam hati, untuk tidak membuat Peri Coklat sedih lagi. Esok hari mereka akan mengajak semua anak untuk rajin menggosok gigi. Karena tanpa coklat, hari seluruh anak di dunia akan terasa sangat suram dan membosankan.

***