Monday, February 25, 2019

cerita anak binatang : Kiko Ingin Punya Belang

Cerita di bawah ini adalah cerita anak dengan peran utama binatang kucing. Ternyata banyak kisah binatang yang mirip dengan kisah manusia lho. Semoga dengan membaca cerita di bawah ini, adik-adik bisa mengambil manfaatnya. Selamat membaca.
KIKO INGIN PUNYA BELANG

Kiko adalah seekor anak kucing Persia yang lucu. Ia tinggal di rumah keluarga Adit bersama induk dan ketiga saudaranya. Namun, Kiko sering terlihat murung dan menyendiri. Ternyata, Kiko merasa sangat berbeda dari ketiga saudaranya.
Ketiga saudaranya, memiliki bulu yang berwarna-warni. Coki kakaknya mempunyai belang hitam di hidungnya yang membuat wajahnya terlihat kocak. Adit memanggilnya Coki si badut. Ciko kakak keduanya mempunyai belang abu-abu di mata kirinya. Adit sering memanggilnya dengan sebutan bajak laut. Sedangkan  Moci adik bungsunya, mempunyai bulu kuning berbentuk hati di dadanya, plus tambahan bulu kuning di keempat kakinya, sehingga ia seolah-olah memakai sepatu. Dida adik Adit, sangat memuja Moci. Ia memanggil Moci kucing cinta kecilnya.  Induknya memiliki bulu tiga warna, hitam, kuning dan putih, sangat cantik. Di dadanya ada tanda cinta seperti milik Moci. Namun, entah kenapa, bulu Kiko dari ujung hidung sampai ujung ekor, berwarna putih bersih tanpa noda,. Kiko merasa begitu berbeda, ditambah lagi Keluarga Adit tampaknya tidak menyukai dirinya.
Ibu Adit pernah memarahinya ketika Kiko sedang bersantai di karpet kamar tamu. Saat itu, Kiko baru saja membuat bulunya menjadi lebih berwarna dengan berguling-guling di lumpur sehabis hujan, ia sudah meniru belang hitam di mata kirinya seperti milik Ciko. Mita kakak Adit juga memarahi Kiko saat Kiko membuat bulunya berwarna-warni dengan cat air miliknya. Kiko merasa terasing.
Pada suatu hari, Maya sepupu Adit datang berkunjung. Ketika melihat Kiko, tiba-tiba Maya menjerit.
“Aaahhh…!!” Kiko sampai terlompat karena kaget. Ia lantas bersembunyi di belakang kursi. Oo…apa yang telah kuperbuat? Pikir Kiko bingung. Aduh, bisa-bisa aku dibuang di pasar oleh Keluarga Adit karena membuat Maya ketakutan.
Adit pun berlari tergopoh-gopoh. “Ada apa May?” tanyanya.
“Kucingmu yang itu lucu sekali,” kata Maya dengan mata berbinar-binar, “bulunya putih mulus seperti salju,” sambungnya penuh kekaguman.
Haa.. Kiko melongo.  
“Ha..ha..ha..” Adit tertawa, sambil meraih Kiko dan mengelus-elusnya. Maya ikut mengelus-elus bulu Kiko dengan lembut.
“Yang ini memang beda, namanya Kiko,” jelas Adit, “tapi dia agak nakal, dia suka berguling-guling di lumpur dan membuat karpet Mama kotor. Pernah juga menumpahkan cat air Kak Mita,” sambungnya lagi.
Meong keluh Kiko, Aku tidak nakal, aku cuma ingin membuat buluku lebih berwarna. Maya malah tertawa. “Mungkin dia ingin mewarnai bulunya.”
Aha, Maya tahu maksudku, Kiko langsung menyukai sepupu Adit ini, ia menggosok-gosokkan kepalanya dengan manja ke tangan Maya.
 “Boleh aku minta kucingmu yang ini?” tanya Maya.
“Oh jangan,” kata Adit, “ini kesayanganku, mainlah saja ke sini sering-sering.”
Maya mengangguk setuju. Kiko pun lega, ia tidak bisa membayangkan terpisah dengan induk dan saudara-saudaranya.
Siang itu, Kiko melangkah mendekati saudara-saudaranya yang sedang bermain.
“Hai,” sapanya ceria. “Kalian dengar kata Maya tadi? Katanya aku special.” Ketiga saudaranya tertawa-tawa senang mendengarnya.
“Jadi, kalian ingin menutup belang kalian?” tanya Kiko. “Aku tahu di belakang rumah ada sekaleng cat putih sisa Pak Mudi mengecat pagar,” sambung Kiko. Ketiga saudaranya membelalak terkejut.
 “Haa, ah hahahaha…” tawa ketiganya pecah.
“Tentu saja aku tidak mau menutup belangku Kiko,” kata Ciko. “Aku ini Ciko si bajak laut, penguasa dapur,” katanya sambil pura-pura memamerkan gigi dan kukunya.
 “Dan aku Coki si badut, penghibur Keluarga Adit.” Kata Coki sambil pura-pura terbelit gulungan  benang.
“Sedangkan aku, Moci si kucing cinta,” kata Moci sambil berjalan dengan anggun, tapi tiba-tiba terjatuh ikut terbelit benang Coki. Keempat kucing bersaudara itu pun tertawa bersama-sama.
“Jadi kalian tidak ingin mempunyai bulu seperti buluku?” tanya Kiko.
“Tentu saja tidak.” Jawab ketiganya serempak.
“Kami juga spesial, sama seperti kamu Kiko,” kata Coki sambil tersenyum. Kiko balas tersenyum.
“Sekarang terima seranganku, gulungan kapas!” seru Coki sambil menubruk Kiko, keduanya pun lantas asik bergulingan, Ciko dan Moci pun ikut menimbrung. Sambil bermain, Kiko tersenyum dalam hati, Ternyata benar kata Mami Kucing, kami semua spesial dengan keunikan masing-masing.


3 comments: