Monday, July 14, 2025

Pencuri Liburan

 

PENCURI LIBURAN

            Libur tlah tiba..libur tlah tiba hatiku gembira… Suara merdu Tasya terngiang-ngiang di telingaku. Entah siapa yang pertama kali menyuntikkan lagu itu di benakku, sehingga lagu itu diputar terus-menerus secara otomatis di kepalaku. Sementara sekelilingku ramai dengan celoteh teman-temanku tentang rencana liburan mereka. Si Olla dengan studio trans Bandung nya, Dede dengan rencana Dufannya dan selusin tempat yang belum pernah kudengar terlontar dari mulut teman-temanku yang lain. Kutopang kepala dengan kedua tanganku alih-alih menutup kedua telingaku. Namun, tak urung euphoria liburan itu masih juga merembes dari sela-sela jemariku, memasuki liang telingaku, menembus sawar otakku dan mengaktifkan saklar iri dan jengkelku.

            Orang tuaku adalah pesuruh sekolah ini dengan status Honda, kependekan dari honorarium daerah. Sehari-hari, ibuku menambah keuangan keluarga dengan berjualan makanan ringan untuk anak-anak sekolah. Dengan kondisi ekonomi seperti ini, status juara kelas yang kusabet tujuh kali berturut-turut tidak berpengaruh apa pun terhadap rencana liburanku. Apalagi liburan, berarti pemasukan keluargaku menurun karena ibuku tidak bisa menjual penganan ringan. Aku benci libur sekolah. Seandainya sekolah terus berjalan dan tidak ada hari libur, pikirku.

            “Baiklah anak-anak, selamat berlibur. Sampai jumpa di tahun ajaran berikutnya,” akhirnya Bu Hikmah masuk kelas dan membubarkan kami. Yeay..!! sorak sorai anak-anak sambil berhamburan keluar kelas, Daa..aa sampai jumpa lagi! Kami saling melambai. Aku pun ikut melambai tanpa semangat. Akhirnya kelas telah sepi dan tinggal aku sendiri. Kutelungkupkan kepalaku di atas meja. Aku masih malas kembali ke rumah.

            Tiba-tiba seseorang menyentuh sikuku. Pasti ibu, pikirku. Kuangkat kepalaku dan mendapati sesosok gadis seusiaku yang belum pernah kulihat. “Eh,” belum sempat aku berkata apa-apa, gadis itu tersenyum. “Kenapa sedih?” tanyanya. “Aku benci libur panjang, seandainya sekolah tidak perlu libur,” jawabku spontan.

“Ayo ikut aku,” ditariknya tanganku supaya mengikutinya. Entah mengapa aku mengikuti gadis tak dikenal itu.

“Kita kemana?” tanyaku.

“Kau betul-betul ingin liburan ini dibatalkan?” ia balas bertanya. “Bagaimana dengan teman-temanmu yang sudah mempunyai rencana segudang untuk mengisi liburannya?”

“Aku tidak peduli,” tukasku. “Justru aku senang mereka batal berlibur.” Ha..ha.. ha.. tawaku, persis seperti tokoh-tokoh jahat dalam sinetron.

Gadis itu tampak menghela napas. “Ayo, ada yang bisa mengabulkan keinginanmu” ajaknya.

Tiba-tiba pikiran mistis merasuki pikiranku, “Memangnya Kau siapa? Apa Kau ibu periku?”

Gadis itu memutar bola matanya. “Apa aku tampak setua itu?” tanyanya kesal. “Aku… hmm sebut saja aku peri harapan,” jawabnya kemudian.

            Ia mengajakku mendaki lebih jauh bukit belakang sekolah. Setelah menyeberang sungai kecil tempatku biasa bermain, kami melingkari sebuah batu besar yang selama ini luput dari perhatianku. Di balik batu itu, ternyata terdapat ruang kecil yang menjorok ke dalam batu membentuk semacam relung gua. Di sana duduklah seorang nenek tua, berkebaya lurik dan berkain batik. Rambutnya yang berwarna putih abu-abu digelung rapi ke belakang. Wajahnya manis dan ramah. Di depan sang nenek, terdapat lempeng batu datar semacam altar.

“Kau ingin liburan ini tidak pernah terjadi Nak?” tanyanya ramah.

Aku mengangguk.

“Kau tidak peduli dengan teman-temanmu yang sudah lama mengharapkan liburan ini?” tanyanya lagi?

Aku kembali menggeleng.

Tapi tahukah Kau, ada harga untuk semua hal buruk yang Kau niatkan?”

“Oh..oh berapa Nek?”

“Hmm…,” nenek itu memandangku seperti sedang menaksir emas. “Usiamu akan bertambah satu tahun lebih cepat daripada teman-teman sebayamu.”

Hah.. satu tahun, pikirku, apalah arti satu tahun di usiaku yang masih belia ini. Cepat-cepat aku mengangguk setuju.

“Hi..hi..hi..,” nenek itu tertawa. Apakah tokoh jahat selalu gemar tertawa seperti ini ya, pikirku sambil menggaruk-garuk kepala.

“Lalu, apakah teman-temanku akan menyadari liburan mereka yang dibatalkan?” tanyaku menghentikan tawanya.

“Uhuk..uhuk..uhuk.. Hmm.. tidak, mereka hanya akan merasakan kelesuan fisik dan rasa kesal yang sama bila sesuatu yang sangat kau inginkan diambil dengan paksa darimu, sedangkan untuk lamanya, tergantung dari seberapa besar keinginan mereka akan liburan kali ini,” jawabnya terbatuk-batuk, mungkin tersedak tawanya yang kuinterupsi dengan tiba-tiba.

“Kemarikan tanganmu,” sambungnya sambil menarik tanganku ke arahnya. Aww, ditusuknya jari manisku dengan semacam duri tanaman. Semoga duri itu steril, sehingga aku tidak terkena tetanus, pikirku galau. Darahku pun menetes di atas sebuah mangkuk pualam putih. Setelah jariku meneteskan tiga tetes darah, nenek menjepitkan gumpalan seperti daun tembakau diantara jari jempol dan jari manisku, mungkin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah infeksi.

“Setetes darah perawan yang mendengki, di dalam sepercik air sungai, sepercik air laut, bunga pukul empat dan akar rumput kalanjana ditambah essens sinar bulan biru,” nenek itu menggumam, tangannya bergerak menambahkan serbuk putih kebiruan yang berkilau ke dalam mangkuk yang berisi air, tetesan darahku dan beberapa kuntum bunga dan rerumputan itu. Setetes darah perawan yang mendengki..oh, sebersit penyesalan dan rasa benci terhadap diri sendiri menyusup dalam hatiku. Namun rasa itu segera menghilang seperti mendung ditiup angin.

Tiba-tiba angin berputar di sekeliling kami, membuat daun-daun berpusing dan porak poranda, Anehnya, kami seolah-olah berada di pusat angin beliung itu, tenang dan tidak terganggu sama sekali, sehingga aku bisa memperhatikan langit yang berubah-ubah warna di balik pusaran angin. Biru emas saat senja, biru gelap, hitam, emas lagi berkali-kali. Setelah beberapa saat, angin pun mereda. Tiba-tiba aku sudah berdiri di depan kelas VII a. Aku merasa seperti terbangun dari tidur. Apakah aku baru saja bermimpi, pikirku. Tetapi, aku merasakan sesuatu di jempol dan jari manisku. Aku melihat tembakau pemberian sang nenek terjepit di antara jariku. Aku pun mulai melangkah dengan sedikit linglung. Hari sudah beranjak senja, langit keemasan di ufuk barat, mentari masih terlihat separo, namun di sisi timur, bulan segaris sudah mulai muncul seolah tak sabar dengan pergantian tugas menerangi dunia.

Aku pun melangkah menuju rumahku di belakang sekolah. Aku membuka pintu belakang rumahku, ibuku tampak sedang memasak, Aroma sedap sayur lodeh dan ikan asin menghambur ke hidungku.

“Kau sudah pulang Nak? Dari mana saja?” tanya ibuku sambil mencium keningku. Aku cuma tersenyum.

“Nah ini dia juara kita sudah pulang,” tiba-tiba ayahku masuk dari kamar tamu, sekaligus kamar keluarga dan kamar makan. Tangan kanannya melambai-lambaikan selembar kertas yang mirip tiket. “Lihat ini, tiket kereta ke jogja, kau bisa berlibur ke rumah budemu, ayah dan ibumu sudah menabung supaya jagoan ayah bisa berlibur ke jogja,” kata ayahku, wajahnya berbinar-binar.

Seketika mulutku terbuka, liburan di Jogja?? Kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah cerita?” tuntutku.

“Kami ingin memberi kejutan menyenangkan buatmu Nak.”

Aku tergugu. “Aku masuk kamar dulu Yah, Bu,” kataku kemudian. Kedua orang tuaku pun saling berpandang-pandangan dengan heran.

            Kuhempaskan tubuhku di kasur tipisku, liburan ke Jogja adalah liburan yang sangat kuidam-idamkan dan terus kuminta pada ayah dan ibukku sejak beberapa tahun yang lalu. Dan, ketika harapanku itu akan menjadi kenyataan, aku malah membuat liburan ditiadakan. Rasanya aku ingin menangis, jadi seperti ini rasanya bila impian yang ada di depan mata direnggut dari mu. Aku memikirkan teman-temanku dan membayangkan mereka juga mempunyai rasa yang sama walaupun tidak menyadarinya. Oh maafkan aku teman-teman, sesalku. Namun sesal kemudian tak berguna. Aku pun jatuh tertidur dengan air mata mengalir di pipiku.

            Kukuru…yukkk… Aku terbangun oleh pekikan si Rambo. Hmm.. ini liburan, eh..oh tidak.. aku terduduk, hari ini aku tidak jadi libur, pikirku dengan hati nelangsa. Aku bergegas bangun dan merapikan tempat tidur ku. Segera kusambar handuk untuk mandi. Ibuku yang sedang menghirup secangkir teh di dapur, memandangku dengan aneh.

“Tumben liburan seperti ini kau mandi pagi-pagi Arini. Keretamu ke Jogja baru berangkat besok kok,” katanya sambil tersenyum.

“Hah?? Jadi hari ini jadi libur?” tanyaku tidak percaya.

Ibuku ganti membelalak, “Masakan Kau lupa? Tentu saja ini liburan panjang yang dinanti-nantikan seluruh anak sekolah di Indonesia,” ibu mulai kebiasaan hiperbolanya.

            Oh benarkah? Aku bertanya-tanya. Hatiku belum tenang sebelum waktu masuk sekolah tiba. Akhirnya, detik demi detik berlalu dan waktu menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Ketika saat itu halaman sekolahku masih juga sepi, aku baru bisa menghela napas lega. Tawaku keluar tanpa bisa kutahan. Hari ini libur….. Berarti perjumpaanku dengan sang nenek pemutar waktu hanya mimpi. Tapi daun tembakau itu… ah entahlah masa bodoh. Oh.. betapa tenangnya hatiku. Kutarik tangan ibuku dan kuajak memutar-mutar menari bahagia, sambil berteriak libur ke Jogja..libur ke Jogja. Ibuku walaupun heran dengan kegiranganku yang terlambat ikut tertawa senang.

            Namun ditengah kegembiraanku, terselip rasa malu di hatiku, bila mengingat rasa iri dengkiku terhadap keberutungan teman-temanku. Maafkan aku Tuhan, pintaku, dan aku berjanji dengan pertolongan Rahmat- Mu aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Sesal dan doaku pada Tuhan.