Cerita di bawah ini adalah cerita anak dengan peran utama binatang kucing. Ternyata banyak kisah binatang yang mirip dengan kisah manusia lho. Semoga dengan membaca cerita di bawah ini, adik-adik bisa mengambil manfaatnya. Selamat membaca.
KIKO
INGIN PUNYA BELANG
Kiko adalah seekor anak kucing
Persia yang lucu. Ia tinggal di rumah keluarga Adit bersama induk dan ketiga
saudaranya. Namun, Kiko sering terlihat murung dan menyendiri. Ternyata, Kiko
merasa sangat berbeda dari ketiga saudaranya.
Ketiga saudaranya, memiliki bulu
yang berwarna-warni. Coki kakaknya mempunyai belang hitam di hidungnya yang
membuat wajahnya terlihat kocak. Adit memanggilnya Coki si badut. Ciko kakak
keduanya mempunyai belang abu-abu di mata kirinya. Adit sering memanggilnya
dengan sebutan bajak laut. Sedangkan
Moci adik bungsunya, mempunyai bulu kuning berbentuk hati di dadanya,
plus tambahan bulu kuning di keempat kakinya, sehingga ia seolah-olah memakai
sepatu. Dida adik Adit, sangat memuja Moci. Ia memanggil Moci kucing cinta
kecilnya. Induknya memiliki bulu tiga
warna, hitam, kuning dan putih, sangat cantik. Di dadanya ada tanda cinta
seperti milik Moci. Namun, entah kenapa, bulu Kiko dari ujung hidung sampai
ujung ekor, berwarna putih bersih tanpa noda,. Kiko merasa begitu berbeda,
ditambah lagi Keluarga Adit tampaknya tidak menyukai dirinya.
Ibu Adit pernah memarahinya ketika
Kiko sedang bersantai di karpet kamar tamu. Saat itu, Kiko baru saja membuat
bulunya menjadi lebih berwarna dengan berguling-guling di lumpur sehabis hujan,
ia sudah meniru belang hitam di mata kirinya seperti milik Ciko. Mita kakak
Adit juga memarahi Kiko saat Kiko membuat bulunya berwarna-warni dengan cat air
miliknya. Kiko merasa terasing.
Pada suatu hari, Maya sepupu Adit
datang berkunjung. Ketika melihat Kiko, tiba-tiba Maya menjerit.
“Aaahhh…!!” Kiko sampai terlompat karena kaget. Ia
lantas bersembunyi di belakang kursi. Oo…apa
yang telah kuperbuat? Pikir Kiko bingung. Aduh, bisa-bisa aku dibuang di pasar oleh Keluarga Adit karena membuat
Maya ketakutan.
Adit pun berlari tergopoh-gopoh. “Ada apa May?”
tanyanya.
“Kucingmu yang itu lucu sekali,” kata Maya dengan
mata berbinar-binar, “bulunya putih mulus seperti salju,” sambungnya penuh
kekaguman.
Haa..
Kiko melongo.
“Ha..ha..ha..” Adit tertawa, sambil meraih Kiko dan
mengelus-elusnya. Maya ikut mengelus-elus bulu Kiko dengan lembut.
“Yang ini memang beda, namanya Kiko,” jelas Adit,
“tapi dia agak nakal, dia suka berguling-guling di lumpur dan membuat karpet
Mama kotor. Pernah juga menumpahkan cat air Kak Mita,” sambungnya lagi.
Meong
keluh Kiko, Aku tidak nakal, aku cuma
ingin membuat buluku lebih berwarna. Maya malah tertawa. “Mungkin dia ingin
mewarnai bulunya.”
Aha, Maya tahu
maksudku, Kiko langsung menyukai sepupu Adit ini, ia
menggosok-gosokkan kepalanya dengan manja ke tangan Maya.
“Boleh aku
minta kucingmu yang ini?” tanya Maya.
“Oh jangan,” kata Adit, “ini kesayanganku, mainlah
saja ke sini sering-sering.”
Maya mengangguk setuju. Kiko pun lega, ia tidak bisa
membayangkan terpisah dengan induk dan saudara-saudaranya.
Siang itu, Kiko melangkah mendekati
saudara-saudaranya yang sedang bermain.
“Hai,” sapanya ceria. “Kalian dengar kata Maya tadi?
Katanya aku special.” Ketiga saudaranya tertawa-tawa senang mendengarnya.
“Jadi, kalian ingin menutup belang kalian?” tanya
Kiko. “Aku tahu di belakang rumah ada sekaleng cat putih sisa Pak Mudi mengecat
pagar,” sambung Kiko. Ketiga saudaranya membelalak terkejut.
“Haa, ah
hahahaha…” tawa ketiganya pecah.
“Tentu saja aku tidak mau menutup belangku Kiko,”
kata Ciko. “Aku ini Ciko si bajak laut, penguasa dapur,” katanya sambil
pura-pura memamerkan gigi dan kukunya.
“Dan aku Coki
si badut, penghibur Keluarga Adit.” Kata Coki sambil pura-pura terbelit
gulungan benang.
“Sedangkan aku, Moci si kucing cinta,” kata Moci
sambil berjalan dengan anggun, tapi tiba-tiba terjatuh ikut terbelit benang
Coki. Keempat kucing bersaudara itu pun tertawa bersama-sama.
“Jadi kalian tidak ingin mempunyai bulu seperti
buluku?” tanya Kiko.
“Tentu saja tidak.” Jawab ketiganya serempak.
“Kami juga spesial, sama seperti kamu Kiko,” kata
Coki sambil tersenyum. Kiko balas tersenyum.
“Sekarang terima seranganku, gulungan kapas!” seru
Coki sambil menubruk Kiko, keduanya pun lantas asik bergulingan, Ciko dan Moci
pun ikut menimbrung. Sambil bermain, Kiko tersenyum dalam hati, Ternyata benar kata Mami Kucing, kami semua
spesial dengan keunikan masing-masing.

