Monday, March 4, 2019

Cerita Anak Momo Dan Hujan


MOMO DAN HUJAN



            Momo sangat suka hujan. Hujan gerimis atau hujan lebat, semua momo suka. Menurut momo, dunia tampak lebih indah di balik guyuran hujan. Bila hujan tiba, Momo bersama teman-temannya, suka berlari-lari di bawah siraman hujan, atau mandi di bawah talang rumah sambil membayangkan mandi di bawah air terjun. Sesudah asyik bermain hujan, biasanya Ibu Momo akan memandikannya dengan air hangat dan menyediakan segelas susu coklat hangat serta sepiring kentang goreng. Hmm…yummy.
            Hobi  Momo yang lain adalah, ia  suka sekali menghanyutkan perahu kertas di selokan kecil di depan rumahnya. Momo berlomba dengan teman-temannya, perahu kertas siapa yang lebih cepat dan paling tahan lama tidak tenggelam. Terlebih setelah hujan reda, air di selokan itu mengalir lebih deras. Terkadang Momo menghanyutkan kardus yang diberi tiang dan bendera. Momo membayangkan dirinya mengecil dan menjadi nakhoda perahu kertas atau perahu kardusnya itu. Kalau besar nanti, Momo bercita-cita menjadi seorang pelaut. Ia akan menjelajah Indonesia yang kata   ibu Guru di sekolah, 2/3 nya terdiri dari lautan. Selain perahu kertas dan kardus, Momo juga sering menghanyutkan barang-barang lain seperti sepatunya yang sudah rusak atau sekedar bungkus permen.  Ia suka sekali melihat barang-barang itu hanyut terombang-ambing dipermainkan arus air.
          Sebetulnya, Ibu Momo selalu mengingatkannya untuk tidak menghanyutkan sampah ke sungai. Ibu mengatakan bahwa perahu-perahu Momo itu akan menghalangi aliran air dan menyebabkan selokan menjadi dangkal. Bila selokan menjadi dangkal, selokan tidak bisa lagi menampung air hujan. Tapi Momo tidak pernah menggubrisnya. Momo terhanyut dengan bayangannya menjadi nakhoda kapal kecilnya.
            Pagi itu adalah hari Minggu. Hujan turun tiada henti sejak tadi malam. Suasana yang dingin dan suara ketukan hujan di genting yang berirama menyebabkan Momo malas bangun dan semakin merapatkan selimutnya. Tapi, ada suara ribut-ribut teriakan ayah dan ibunya mengusik tidur Momo. Awas…ya..ya.. angkat, dan suara-suara perabotan di geser. Dengan menggerutu, Momo melepas selimutnya dan turun dari tempat tidur. Tapi, aw.. dingin, ada air di bawah tempat tidurnya. Bagaimana mungkin? Ada air di mana-mana. Momo menatap bingung karena tempat tidurnya terkepung air, sebagian kertas-kertas mengambang. Momo cepat keluar kamar dan bergabung dengan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu Momo sedang sibuk menggeser-geser perabot seperti tivi dan kertas-kertas penting supaya tidak rusak terkena air.
            “Ada apa ini Yah?” Tanya Momo. “Ini namanya banjir Momo,” jelas ayahnya. Momo pun manggut-manggut. Seperti ini rupanya banjir, selama ini Momo hanya pernah melihat di tivi mengenai banjir. Momo pun segera membantu kedua orang tuanya mengamankan barang-barang yang penting sambil menggerutu. Kali ini Momo marah pada hujan karena telah menyebabkan rumahnya kacau balau. Untunglah hujan, segera reda, mungkin hujan takut dengan amarahnya, pikir Momo. Namun, meskipun hujan sudah berhenti, air di dalam rumah Momo tidak serta merta surut. Di dalam rumah, air masih setinggi mata kaki dan kaki Momo mulai gatal-gatal. Ayah Momo keluar bersama tetangga lainnya akan kerja bakti. Entahlah apa yang akan dikerjakan ayahnya, Momo tidak tahu.
            Sore hari, Ayah Momo kembali ke rumah. Air di dalam rumah Momo sudah surut. Tapi bukan berarti pekerjaan sudah selesai. Keluarga Momo masih harus membersihkan lumpur yang menemani air hujan masuk ke dalam rumah. Saat makan malam, Ayah menceritakan yang dilakukannya bersama Bapak-bapak tetangga siang tadi.  “Sistem pembuangan air desa kita kacau,” terang Ayah,”sudah tidak bisa menampung air hujan. Selokan kita penuh dengan sampah. Banyak orang-orang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan. Ayah dan Bapak-Bapak tadi menemukan kardus, kertas-kertas, ember bekas, segala macam plastic, sepatu bekas dan segala macam sampah lainnya yang menyebabkan selokan kita tersumbat.”
            Kertas, kardus, sepatu, glek, Momo menelan ludah. Jadi dia yang ikut  menyebabkan desanya dilanda banjir. Ibu melirik Momo, yang diartikan oleh Momo sebagai pandangan, “Apa kata Ibu.” “Jadi, ehm… bukan salah hujan ya Yah, rumah kita menjadi banjir, tapi kita sendiri yang salah?” Tanya Momo. Momo menyesal sudah marah pada hujan.  “Iya Momo, hujan sama sekali tidak salah. Hujan turun memberi kesuburan dan air tanah yang sangat kita butuhkan. Nah, mulai sekarang, kita semua harus ikut menjaga kebersihan selokan dan sungai di sekitar kita dengan cara, tidak membuang sampah sembarangan. Bila kita melihat ada yang masih membuang sampah di selokan atau sungai, kita wajib mengingatkan.”
            Momo menunduk, diam-diam minta maaf pada Tuhan karena telah menyalahkan hujan dan berjanji pada diri sendiri untuk menjaga kebersihan selokannya. “Momo,” tegur Ibunya, “ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan besok pagi.” “Apa Bu?” Tanya Momo. “Pergi ke puskesmas untuk berobat gatal-gatal di jari-jari kakimu karena seharian terendam air.” Jawab Ibu sambil tersenyum. Momo pun mengangguk dan tersenyum lega.


4 comments:

  1. Bagus sekali ceritanya Nungki.

    ReplyDelete
  2. Apik bu..pengalaman waktu kecil dl...sering buat perahu kertas dan dihanyutkn. Lanjut dok...kutunggu cerita lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihhh, semoga segera ada ide lagiπŸ˜€

      Delete