MOMO DAN HUJAN
Momo
sangat suka hujan. Hujan gerimis atau hujan lebat, semua momo suka. Menurut
momo, dunia tampak lebih indah di balik guyuran hujan. Bila hujan tiba, Momo bersama
teman-temannya, suka berlari-lari di bawah siraman hujan, atau mandi di bawah
talang rumah sambil membayangkan mandi di bawah air terjun. Sesudah asyik
bermain hujan, biasanya Ibu Momo akan memandikannya dengan air hangat dan
menyediakan segelas susu coklat hangat serta sepiring kentang goreng.
Hmm…yummy.
Hobi
Momo yang lain adalah, ia suka sekali menghanyutkan perahu kertas di selokan
kecil di depan rumahnya. Momo berlomba dengan teman-temannya, perahu kertas
siapa yang lebih cepat dan paling tahan lama tidak tenggelam. Terlebih setelah
hujan reda, air di selokan itu mengalir lebih deras. Terkadang Momo
menghanyutkan kardus yang diberi tiang dan bendera. Momo membayangkan dirinya mengecil
dan menjadi nakhoda perahu kertas atau perahu kardusnya itu. Kalau besar nanti,
Momo bercita-cita menjadi seorang pelaut. Ia akan menjelajah Indonesia yang
kata ibu Guru di sekolah, 2/3 nya
terdiri dari lautan. Selain perahu kertas dan kardus, Momo juga sering
menghanyutkan barang-barang lain seperti sepatunya yang sudah rusak atau
sekedar bungkus permen. Ia suka sekali
melihat barang-barang itu hanyut terombang-ambing dipermainkan arus air.
Sebetulnya,
Ibu Momo selalu mengingatkannya untuk tidak menghanyutkan sampah ke sungai. Ibu
mengatakan bahwa perahu-perahu Momo itu akan menghalangi aliran air dan
menyebabkan selokan menjadi dangkal. Bila selokan menjadi dangkal, selokan tidak
bisa lagi menampung air hujan. Tapi Momo tidak pernah menggubrisnya. Momo
terhanyut dengan bayangannya menjadi nakhoda kapal kecilnya.
Pagi
itu adalah hari Minggu. Hujan turun tiada henti sejak tadi malam. Suasana yang
dingin dan suara ketukan hujan di genting yang berirama menyebabkan Momo malas
bangun dan semakin merapatkan selimutnya. Tapi, ada suara ribut-ribut teriakan
ayah dan ibunya mengusik tidur Momo. Awas…ya..ya.. angkat, dan suara-suara
perabotan di geser. Dengan menggerutu, Momo melepas selimutnya dan turun dari
tempat tidur. Tapi, aw.. dingin, ada air di bawah tempat tidurnya. Bagaimana
mungkin? Ada air di mana-mana. Momo menatap bingung karena tempat tidurnya
terkepung air, sebagian kertas-kertas mengambang. Momo cepat keluar kamar dan
bergabung dengan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu Momo sedang sibuk
menggeser-geser perabot seperti tivi dan kertas-kertas penting supaya tidak
rusak terkena air.
“Ada
apa ini Yah?” Tanya Momo. “Ini namanya banjir Momo,” jelas ayahnya. Momo pun
manggut-manggut. Seperti ini rupanya banjir, selama ini Momo hanya pernah
melihat di tivi mengenai banjir. Momo pun segera membantu kedua orang tuanya
mengamankan barang-barang yang penting sambil menggerutu. Kali ini Momo marah
pada hujan karena telah menyebabkan rumahnya kacau balau. Untunglah hujan,
segera reda, mungkin hujan takut dengan amarahnya, pikir Momo. Namun, meskipun
hujan sudah berhenti, air di dalam rumah Momo tidak serta merta surut. Di dalam
rumah, air masih setinggi mata kaki dan kaki Momo mulai gatal-gatal. Ayah Momo
keluar bersama tetangga lainnya akan kerja bakti. Entahlah apa yang akan
dikerjakan ayahnya, Momo tidak tahu.
Sore
hari, Ayah Momo kembali ke rumah. Air di dalam rumah Momo sudah surut. Tapi
bukan berarti pekerjaan sudah selesai. Keluarga Momo masih harus membersihkan
lumpur yang menemani air hujan masuk ke dalam rumah. Saat makan malam, Ayah
menceritakan yang dilakukannya bersama Bapak-bapak tetangga siang tadi. “Sistem pembuangan air desa kita kacau,”
terang Ayah,”sudah tidak bisa menampung air hujan. Selokan kita penuh dengan
sampah. Banyak orang-orang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarangan.
Ayah dan Bapak-Bapak tadi menemukan kardus, kertas-kertas, ember bekas, segala
macam plastic, sepatu bekas dan segala macam sampah lainnya yang menyebabkan
selokan kita tersumbat.”
Kertas,
kardus, sepatu, glek, Momo menelan ludah. Jadi dia yang ikut menyebabkan desanya dilanda banjir. Ibu
melirik Momo, yang diartikan oleh Momo sebagai pandangan, “Apa kata Ibu.”
“Jadi, ehm… bukan salah hujan ya Yah, rumah kita menjadi banjir, tapi kita
sendiri yang salah?” Tanya Momo. Momo menyesal sudah marah pada hujan. “Iya Momo, hujan sama sekali tidak salah.
Hujan turun memberi kesuburan dan air tanah yang sangat kita butuhkan. Nah,
mulai sekarang, kita semua harus ikut menjaga kebersihan selokan dan sungai di
sekitar kita dengan cara, tidak membuang sampah sembarangan. Bila kita melihat
ada yang masih membuang sampah di selokan atau sungai, kita wajib mengingatkan.”
Momo
menunduk, diam-diam minta maaf pada Tuhan karena telah menyalahkan hujan dan
berjanji pada diri sendiri untuk menjaga kebersihan selokannya. “Momo,” tegur
Ibunya, “ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan besok pagi.” “Apa Bu?” Tanya
Momo. “Pergi ke puskesmas untuk berobat gatal-gatal di jari-jari kakimu karena
seharian terendam air.” Jawab Ibu sambil tersenyum. Momo pun mengangguk dan
tersenyum lega.

Bagus sekali ceritanya Nungki.
ReplyDeleteMakasihhh ππ
DeleteApik bu..pengalaman waktu kecil dl...sering buat perahu kertas dan dihanyutkn. Lanjut dok...kutunggu cerita lainnya
ReplyDeleteMakasihhh, semoga segera ada ide lagiπ
Delete