Saturday, January 26, 2019

Cerita Anak: Ciap Belajar Terbang


Cerita di bawah ini, merupakan cerita anak fabel. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita anak dengan tokoh utama binatang. Dari cerita binatang, pelajaran yang diambil tidak berkesan menggurui sehingga diharapkan lebih masuk ke benak anak.

CIAP BELAJAR TERBANG

            Pagi ini adalah pagi yang sangat indah. Mentari tersenyum dengan lembut dari balik awan. Sang angin menjelajah perlahan-lahan menghadirkan kesejukan di seluruh hutan rimba. Daun-daun saling bergesekan lembut, sebagian tampak terantuk-antuk dibelai angin sepoi-sepoi.
Semua hewan, warga hutan ceria pun tampak bersemangat menikmati suasana pagi ini. Tiga bersaudara kelinci tampak berlompatan, asyik bermain petak umpet. Bulu-bulu mereka yang putih bersih tampak sesekali menyembul di antara hijaunya rerumputan. Keluarga kambing dan keluarga rusa berbagi rumput dengan damai. Beni si bunglon menempel tenang pada pohon mangga, nyaris tak nampak sesuai dengan sifatnya yang tidak mau menonjolkan diri.
Sementara di atas pohon mangga, di antara rimbunnya dedaunan, terdengar keramaian di sarang keluarga Pipit. Tampaknya Mami Pipit sedang bersiap memberi pelajaran terbang yang pertama kali untuk ketiga anaknya.
“Nah, anak-anakku yang manis. Cuaca pagi ini sangat cocok buat kalian untuk belajar terbang.” Seru Mami Pipit.
“Hore..hore! Akhirnya kita belajar terbang!” Sorak Cicit dan Cuit bersahutan.
“Sebelumnya, ayo kita pemanasan dulu,” sambung Mami Pipit, yang kemudian memberikan aba-aba sambil memberikan contoh gerakan, “Satu dua satu dua.” Seru Mami Pipit seraya menganggukkan kepala, menggelengkan kepala, memutar sayap dan gerakan-gerakan pemanasan lain.
            Cicit dan Cuit tampak bersemangat mengikuti gerakan-gerakan Mami Pipit. Tapi hei, lihat rupanya ada yang tidak bersemangat. Ciap mengikuti gerakan-gerakan Sang Mami dengan malas. Sebenarnya, Ciap takut belajar terbang. Pohon mangga ini tinggi sekali. Masih terbayang di benaknya suara berdebum buah mangga yang jatuh dari pohon ini. Belum lagi ketika ia melongok ke bawah dan mendapati buah mangga itu sudah tidak berwujud. Bagaimana kalau ia gagal terbang, atau saat terbang tiba-tiba sayapnya terkena kejang otot, kram sehingga tidak bisa digerakkan? Oh tidak.. Pikir Ciap, ia tidak mau bernasib seperti buah mangga itu.
“Ciap, “ tegur Mami Pipit, “ayo gerakkan sayapmu dengan benar seperti ini.” Ujar Mami Pipit seraya memberi contoh.
“Mami, sepertinya aku belum siap untuk belajar terbang. Lihat buluku belum selebat punya kakak-kakak,” jawab Ciap dengan suara memelas, “tunggulah sampai buluku tumbuh lebih banyak lagi.” Pinta Ciap.
“Baiklah,” ujar Mami Pipit sambil menghela napas, “Kau lihat dulu kakak-kakakmu ya Nak.”
Mami Pipit tahu itu hanya alasan Ciap yang masih takut belajar terbang. Ciap memang menetas paling akhir. Tapi tentu saja bulunya sudah selebat kakak-kakaknya. Ciap hanya 25 detik lebih lambat menetas, daripada Cuit. Mami Pipit berharap, keberanian Ciap tumbuh setelah melihat kedua kakaknya berlatih terbang. Sementara kedua kakak Ciap, Cicit dan Cuit mulai melompat sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya dengan gembira. Keduanya memang ingin segera bisa terbang agar bisa menjelajah seantero hutan ceria, yang diceritakan ibunya sangat indah.
Ketika pelajaran terbang kedua dimulai, Ciap lagi-lagi memberi alasan.
“Mami, sepertinya hari ini angin berhembus kencang. Tentu tidak bagus untuk aku yang baru pertama kali belajar terbang.”  Demikian juga saat pelajaran terbang ketiga, keempat dan seterusnya. Ada-ada saja alasan Ciap, mulai dari tidak enak badan, matahari yang bersinar terlalu terik, suara-suara binatang hutan yang membuatnya tidak bisa konsentrasi, dan seribu satu alasan lain. Bahkan Ciap pernah mengatakan bahwa kemungkinan, ia berasal dari telur unggas lain yang tidak bisa terbang dan secara tidak sengaja dierami oleh maminya. Tentu saja alasan itu sangat konyol, karena wajah Ciap sangat serupa dengan mami dan kedua saudaranya.  Sementara itu, kedua kakak Ciap mulai mahir terbang. Keduanya sudah bisa terbang lima putaran tanpa henti, mengelilingi pohon mangga tempat mereka tinggal. Ciap juga tidak tertarik, ketika Cicit dan Cuit menceritakan betapa asyiknya bisa terbang.  Sampai saat ini Mami Pipit masih bersabar. Ia tidak tega memaksa anak bungsunya itu, untuk belajar terbang.
            Sampai pada suatu malam yang sangat hening. Keluarga pipit sudah tertidur lelap. Tiba-tiba Mami Pipit terbangun. Ia merasa ada sesuatu yang mengancam keselamatan jiwanya dan anak-anaknya. Benar saja, rupanya seekor ular tedung hijau sedang mendesis-desis di dekat sarangnya.
“Cicit, Cuit, Ciap!” teriaknya,”ayo bangun!”
Cicit, Cuit dan Ciap langsung terbangun kaget mendengar teriakan mami pipit. Ketiganya pun segera sadar bahaya yang mengancam. Mami Pipit berdiri tegak melindungi ketiga buah hatinya sambil bercuit-cuit mengusir ular tedung itu pergi. Namun tidak terbayang rasa takut sedikit pun di mata ular tedung itu. Tampak jelas, ia tidak berniat melepas keempat mangsanya. Sementara Cicit, Cuit dan Ciap gemetar ketakutan di belakang mami pipit. Ketika sadar ular itu sama sekali tidak takut padanya, Mami Pipit segera memberi aba-aba.
“Cicit, Cuit ayo terbang!”
Cicit dan Cuit yang memang sudah mahir terbang, langsung mengepak-ngepakkan kedua sayapnya dan terbang. Tinggal Ciap yang berdiri kebingungan.
”Oh..oh aku akan ditinggal sendirian menjadi mangsa ular,” pikir Ciap.
Ia mengira maminya pun akan segera terbang meninggalkannya. Ini semua karena kemalasan dan ketakutannya untuk belajar terbang. Ternyata tinggal diam di sarang bukanlah jaminan dirinya selalu terhindar dari bahaya. Tapi, oh ternyata maminya tidak meninggalkannya. Mami Pipit tetap berdiri menghadang diantara ular tedung dan Ciap. Sementara sang ular semakin merangsek mendekat sambil mendesis-desis sadis.
“Aduh harusnya mami bisa segera terbang menyelamatkan diri,” pikir Ciap,”sekarang mami akan menjadi kurban keganasan ular tedung gara-gara kemalasanku.”
“Mami, mami terbang saja.” Ucap Ciap disela-sela isak tangis.
Sementara kedua saudara Ciap berteriak-teriak memanggil mami pipit dan Ciap.
“Tidak Ciap, Mami akan tetap di sini menjagamu.” Jawab Mami Pipit,
Oh Ciap sangat terharu.
            Melihat keberanian maminya dan menyadari cinta mami pipit yang begitu besar pada dirinya, Ciap tidak mau menyerah. Ia harus menebus kesalahannya, pikir Ciap. Ciap lantas mengingat-ingat pelajaran terbang yang pernah diberikan maminya. Ciap memang tidak berlatih, tapi untunglah otaknya mencatat apa yang dikatakan maminya. Jadi, sayap diangkat, diregangkan kemudian dikepakkan. Pikir Ciap sambil dipraktekkannya. Hei, ternyata sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat.
“Mami!” teriaknya, “lihat, aku bisa terbang!”
Ternyata rasa takut membuat Ciap menguasai pelajaran terbang dengan sangat cepat. Mami Pipit sangat gembira melihat Ciap bisa terbang. Ia menyuruh Ciap bergabung dengan kedua kakaknya.
            Mami Pipit pun segera mengepakkan kedua sayapnya dan mulai mematuki ular tedung itu, sambil terbang menjauh bila sang ular hendak balas menyerang. Akhirnya, menyadari buruannya sulit untuk di jadikan santapan malamnya, Ular tedung itu merayap menjauh, meninggalkan sarang keluarga pipit. Keluarga pipit pun bersorak gembira merayakan kemenangan mami mereka.
            “Oh Mami, ternyata terbang itu mudah! Ternyata terbang itu sangat menyenangkan! Ternyata aku memang anak Mami he..he..”  cerocos Ciap dengan mata berbinar gembira.
“Tentu saja Nak, Kau tidak akan pernah tahu sesuatu itu mudah atau sulit, bila tidak pernah mencoba.” jawab Mami Pipit
“Benar kan, kataku bahwa terbang itu menyenangkan,” sambung Cicit kakaknya.
“Asyik! Besok kita bisa bermain bertiga melihat-lihat hutan ceria,” seru Cuit.
“Tapi ingat, kalian harus berhati-hati,” pesan Mami Pipit.
Ciap tersenyum senang sekaligus malu.
“Mami,” kata Ciap,”maaf ya, aku nyaris membuat Mami celaka.”
“Tidak Nak, memang tugas seorang ibu untuk menjaga anak-anaknya. Yang penting kita semua selamat dan Kau bisa memetik pelajaran berharga dari peristiwa tadi malam.” Ujar Mami Pipit sambil memeluk ketiga anaknya.
“Dan tahukah Kau Nak, hampir seluruh mahluk di bumi ini menginginkan bisa terbang seperti kita.” Bisik Mami Pipit.
 Sementara di ufuk timur, matahari mulai menggeliat bangun dari peraduannya, hendak mengucapkan selamat pagi pada seluruh alam. Mengintip dari antara pegunungan kemudian ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan keluarga pipit.


                                                                ***









           






No comments:

Post a Comment